EVEN IF YOU LEAVE ME
Author : Nurizda Oktalia
Casted by : Ok Taec Yeon, Meng Jia, and
Hwang Chan Sung
‘Even
if you leave me, if I can watch over you, I’m happy, that’s enough. And now, forgive
me, I’m sorry I can’t be at your side’
POV JIA
---
“Hei!” teriakku pada
pria yang menabrakku dan menjatuhkan kopi yang baru saja kubeli dari mesin kopi
di sudut jalan. Kumaki orang yang menabrakku dengan keras tapi pria itu berlari
begitu saja. Pria itu dikejar-kejar beberapa paparazzi yang memakai kaca
mata, bertubuh besar, dan membawa kamera. Ada pula gadis berpakaian sangat
tebal dengan handycam di tangannya.
Sebenarnya siapa mereka? Dan apa yang mereka lakukan di sini!
Aku berusaha melupakan
kejadian yang baru saja aku alami, kembali lagi pada mesin kopi dan membeli
kopi hangat untukku. Saat aku mengambil jalan berlawanan dari biasanya
lagi-lagi seseorang menabrakku dan membuat kopi itu membasahi mantelku dan
jaketnya.
“Apa kau sudah gila!” Aku
memukulnya dengan keras sambil berteriak memakinya, dia terlihat geram dan
menarikku berlari bersamanya. Aku berontak dan mencoba membebaskan diri
meskipun percuma. Tapi, dia memegangku terlalu kuat hingga rasa nyeri menyerang
pergelangan tanganku.
“Lepaskan!” teriakku
lebih kertas. Dia tetap berlari membuatku berusaha lebih kuat untuk
menyeimbangkan langkahku dengannya. Dia sudah gila! Tanpa memperdulikan mata-mata
yang melihat ke arahku dia membawaku menuju mobil mewah berwarna putih yang
terparkir di depan sebuah kedai minum. Dia melepaskanku dan seketika itu juga
aku menamparnya.
“Kau ini kenapa!”
Pria itu tak menjawab.
Dia membukakan pintu mobilnya dan memaksaku masuk. Aku bingung dan entah
mengapa aku mengikuti instruksinya. Dia membanting pintu dengan cepat setelah
aku masuk dan dia segera menyusul. Tanpa buang waktu dia menjejakkan mobil itu
dengan cepat meninggalkan orang-orang aneh yang ternyata masih mengejarnya.
Aku diam, memandang tak
percaya pada pria gila yang mengemudikan mobilnya dengan sangat cepat. Aku
tidak berani berbicara, hanya saja rasa penasaran membuatku tak henti-henti
meliriknya. Dia tampan, wajahnya terlihat gagah dengan tubuh atletis yang juga
dimilikinya. Dia berpakaian sangat menarik dengan kaos putih dan jaket kulit
berwarna hitam, serta kaca mata hitam yang menutupi wajahnya sehingga untuk beberapa
saat aku tidak bisa mengenalinya.
Tiba-tiba dia
menghentikan mobilnya. Aku pun sadar dari ketertegunanku dan seketika saja
kulemparkan tasku yang mendarat di wajahnya. Membuat kacamata hitam itu terlepas
dan menunjukkan sosok pria itu.
“Maaf.”
“Kau?” ujarku tak
percaya. Pria itu membetulkan posisi kacamatanya dan mengahadapkan tubuhnya
padaku.
“Maaf atas kopimu, aku
berhutang dua padamu.”
“Apa?” ujarku linglung.
Aku masih tidak percaya, dia Taecyeon dari 2pm. Idola para gadis ini bersamaku
dan membuatku kesal setengah mati padanya. Aku berusaha menyadarkan diriku saat
dia nampak tidak nyaman dengan keterkejutanku.
“Akan ku ganti kopimu,”
dia menatapku yang nampak pucat, “dan juga mantelmu, tentu saja,” ujarnya
ketika menyadari noda kopi yang membasahi mantelku. Aku baru sadar ketika
melihat noda kopi yang juga mengotori kaos nya.
“Lupakan saja,
sebenarnya apa yang terjadi?” Kebingunganku jelas terpeta ketika kulihat senyum
mereka di wajahnya.
“Paparazzi, seperti biasa,” ujarnya nampak kesal, “aku yakin,
foto-foto kita akan masuk surat kabar dan tersebar sebentar lagi. Untung saja
kau memakai itu.” Taecyeon menunjuk mantelku yang berkerah cukup tinggi
sehingga sedikit menutupi wajahku.
“Lalu, kenapa kau
lari?”
“Mereka selalu
mengerecokiku dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuatku muak!”
“Kalau begitu, kenapa
kau membawaku? Maksudku, dengan kau bersamaku akan semakin menyulitkanmu.
Kenapa kau malah menarikku dalam masalahmu?”
gerutuku.
“Aku…, aku tak tahu
kenapa. Tapi begitu menabrakmu lagi, aku benar-benar merasa berhutang padamu.”
Taecyeon mengalihkan pandangannya dariku dan melihat ke arah berlawanan.
“Aku harus pulang.”
Kata-kataku membuatnya kembali mengalihkan perhatiannya padaku.
“Tidak bisa. Aku harus
pergi, aku tak bisa mengantarmu kembali kesana.”
“Aku bisa sendiri!”
ujarku kesal menyandangkan tasku dan keluar dari mobil itu. Taecyeon tidak
mengejarku dan itu benar-benar membuatku marah. Aku tahu, dia takut kalau ada
yang melihatnya bersama gadis sepertiku. Tapi, ini salahnya! Dia yang
menyeretku dalam masalahnya.
***
Musim dingin mulai
meninggalkan kota, kulihat salju yang menutupi jalan setapak menuju pantai
perlahan mulai mencair. Aku tidak lagi memakai mantel dan syal untuk menghangatkan
tubuhku, karena hawa musim semi sudah terasa. Matahari bersinar malu-malu pada
dunia. Membuat secercah cahaya menembus awan-awan dan menerangi pantai yang
kini mulai ramai dikunjungi. Pagi ini dengan segelas kopi hangat, aku duduk di
hamparan pasir yang memberikan kehangatan padaku saat angin laut berhembus.
Pagi ini, aku merasa
angin bertiup dengan senangnya. Menyapu wajahku dan membuat rambutku
berterbangan. Sesekali rambutku menampar lembut wajahku. Mataku terpejam, berusaha
menikmati suasana. Meski sedikit mengantuk rasanya aku tidak mau kehilangan cerahnya
matahari pagi ini. Mata bulatku terbuka saat ku dengar seseorang mendekat. Aku
cukup terusik dengan gangguan ini sampai-sampai aku enggan melihat siapa yang
menggangguku pagi-pagi begini.
“Akhirnya aku
menemukanmu,” ujar seseorang yang sudah kukenali suaranya. Aku tidak mau repot-repot
berdiri menghadapi Taecyeon yang mengajakku bicara. Aku masih memunggunginya
dan mencoba kembali menikmati hangatnya matahari di pantai ini.
“Kau mencariku? Untuk
apa?”
“Aku berhutang padamu.”
“Jangan gila, kau sama
sekali tidak berhutang apa-apa padaku. Kecuali yang kau maksud merusak akhir
pekanku waktu itu.”
“Aku sudah bilang, aku
berhutang dua gelas kopi padamu.” Kata-katanya kali ini membuat wajahku
mengguratkan senyum kecil. Meskipun begitu, bukan berarti aku senang mengingat
hal konyol itu.
“Lupakan saja,” aku
berdiri dan beranjak dari posisi dudukku, “aku tak ingin mengingat kejadian itu
lagi.”
“Apa kau memang suka
dibawa lari seperti waktu itu?”
Melihat kebingungan
terpeta di wajahku dia tertawa dan menarik tanganku. Aku terkejut dan kini dia
sudah begitu dekat denganku. Kali ini dia
tidak hanya menggunakan kacamata hitam untuk menyamar, dia juga memakai
topi yang cukup sempurna untuk membuat penyamarannya berhasil. Meskipun
sebenarnya dia tidak bisa menutupi tubuhnya yang atletis dan menarik perhatian
orang-orang yang tak jauh dari kami.
“Ikut aku.” Dia pun membawaku
lari seperti waktu itu.
***
Plak! Aku mendaratkan
tamparanku di wajahnya. Taecyeon terkejut dan tersenyum sambil memegangi
pipinya yang memerah. Aku marah, kenapa dia memperlakukanku seenaknya!
“Aku hanya ingin
membayar hutangku.”
“Sudah kukatakan,
lupakan saja!” teriakku padanya. Tidak sedikit orang-orang yang berada di
sekitar memperhatikan kami sekarang. Taecyeon nampak terganggu, begitu pun
denganku. Tapi aku masih saja berteriak padanya. “Kau tahu, kau membuatku
seperti orang bodoh dengan menarikku dan membawaku kemana pun kau mau! Apa kau
pikir aku suka?”
Taecyeon nampak geram
dengan semua yang kukatakan padanya. Aku masih terus memakinya hingga dia
kehilangan kesabarannya dan melakukan sesuatu yang membuatku terdiam. Dia
menciumku….
Apa yang …, apa yang
dia lakukan? Disini di depan semua orang yang sekarang benar-benar
memperhatikan kami. Aku terpaku, tak bisa bereaksi meski rasanya ingin sekali
aku menamparnya lagi. Tapi tidak bisa, tanganku seakan mati rasa seketika.
Orang-orang mulai
tertawa dan meneriaki kami dengan senang. Wajahku memerah saat dia menjauhkan
diri dariku. Aku tak berani menatapnya dan juga melihat ke sekelilingku.
Taecyeon segera sadar dengan apa yang baru saja dilakukannya. Dia memegang
tanganku dan membawaku menjauh dari keramaian menuju mobilnya dan menghilang
dari penglihatan orang-orang yang menyaksikan hal memalukan itu.
***
“Kau senang?” ujarku
geram.
“Tentu saja,” dia tertawa
melihat kemarahanku, “sudah kukatakan aku hanya mau membayar hutangku. Apa
susahnya? Kejadian tadi tidak perlu terjadi kalau kau mau mendengarkanku.”
“Baiklah, lakukan apa
yang kau mau kalau begitu,” ujarku kesal.
Taecyeon mengajakku
turun dari mobilnya. Meninggalkan mobil itu terkunci di sana, dan beranjak
menuju tempat waktu itu dia menabrakku. Dia membelikanku kopi dan mengajakku
duduk di taman. Tidak banyak orang yang berada di sini, dan itu membuat kami merasa
lebih nyaman.
Hening, aku tak mau
memulai pembicaraan apapun padanya. Aku meminum kopi itu dengan cepat agar bisa
cepat berpisah darinya. Tapi sepertinya dia bisa membaca pikiranku. Dia tertawa
dan tawanya terdengar sangat senang. Entah kenapa, kali ini aku melihatnya
seperti tanpa beban. Dia jauh berbeda dengan pria yang waktu itu menabrakku.
“Baiklah, sekarang kau
sudah membayar hutangmu padaku. Aku harus pergi sekarang, sebelum orang-orang
aneh itu kembali mengejarmu dan lagi-lagi kau membawaku pada masalahmu.”
“Kau pikir setelah membuatku
mencarimu berhari-hari kau bisa pergi begitu saja?” Nampak kekesalan tersirat
dari nada bicaranya, dan itu bukan urusanku. Salahnya sendiri mencariku tanpa
tahu siapa aku.
“Aku tidak pernah
memintamu untuk mencariku. Aku tidak tahu, kau bodoh, gila, atau apa. Tapi,
bagaimana bisa kau mau mencariku dari ribuan gadis di kota ini. Busan tempat
yang luas, untuk apa kau mencariku hanya sekedar untuk mengganti kopi itu,”
geramku, “jadi tolong jangan membuatku tertawa dengan kelakukanmu sendiri.
Sekarang aku tidak punya waktu. Selamat tinggal, kuharap kita tidak akan
bertemu lagi dan kau tidak menggerecokiku lagi.”
“Temani aku.” Kata-katanya
membuatku menghentikan langkahku.
“Aku tidak punya waktu.”
“Tapi aku masih
berhutang segelas kopi lagi padamu,” ujarnya. Dia tersenyum lebar dan
menunjukkan gelas kosong padaku.
“Sudah aku anggap
lunas.”
“Tidak bisa, aku sudah
bilang waktu itu. Aku berhutang dua gelas kopi padamu.”
“Baiklah, kita beli
satu lagi dan aku bisa pergi.”
“Kau ini, mana bisa kau
minum dua gelas kopi begitu saja.”
“Maksudmu?”
“Kita jalan-jalan dulu
setelah itu aku akan membelikanmu segelas lagi.”
“Sudah kubilang aku tak
punya waktu.”
“Kalau begitu, besok
aku akan menemuimu lagi dan mengajakmu pergi untuk membayar hutangku.”
“Kau mau menemuiku
lagi? Bukankah sudah kukatakan aku tidak mau lagi bertemu denganmu!”
“Salahmu sendiri tidak
mau pergi bersamaku hari ini.”
“Hentikan! Aku tidak
mau berurusan denganmu! Lagipula, untuk apa kau merasa berhutang padaku? Itu
hanya kopi! Kau dengar! Itu hanya kopi biasa, untuk apa pria sibuk sepertimu
mengabiskan waktu sia-sia hanya untuk mengurusi hal sepele seperti ini!”
teriakku geram.
Taecyeon
diam, dia sendiri terlihat bingung dengan apa yang telah dilakukannya. Hal itu
membuatku semakin geram dengannya. Kenapa idola seperti dia terus saja
menggerecokiku!
“Aku
tidak tahu, hanya saja aku…,” dia terdiam, nampak bingung saat aku mendelik
meminta penjelasannya, “sudahlah, kenapa kau malah menghujaniku dengan
pertanyaan itu! Aku hanya bermaksud baik. Aku bertanggung jawab atas
kesalahanku waktu itu. Lagipula, apa salahnya? Maksudku, kau beruntung aku mau
bertanggung jawab.”
“Beruntung?
Kau memang sudah gila,” ujarku tertawa mencibirnya, “yang ada ini musibah
untukku. Gara-gara kau, orang-orang melihatku dan aku tidak suka! Aku bukan
sepertimu yang menikmati menjadi pusat perhatian orang banyak!”
“Baik,
ini salahku. Maaf, dan tolonglah, apa susahnya menemaniku sebentar saja? Anggap
saja kau menjadi pemandu wisata untukku?”
Apa
maksudnya? Sejak kapan aku berprofesi menjadi pemandu wisata? Apalagi untuk
orang macam dia! Aku berusaha menenangkan diri, mencerna apa yang dikatakannya,
meski sulit bagiku untuk menerima alasan-alasanya. Tapi, sudahlah, aku tak mau
ini menjadi lebih buruk.
“Baik, kau menang,”
ujarku geram, “kau mau kemana?” Aku tak bisa membayangkan jika harus terus
meladeninya. Agar semua ini selesai sampai di sini, mau tidak mau aku harus
mengikuti kemauannya.
Dia menyunggingkan
senyum kemenangan padaku dan aku mencibirnya. Dia berjalan lebih dulu dan aku mengikutinya
dari belakang. Sedikit memberi jarak antara aku dan dia agar tidak menarik
perhatian. Lagipula, aku tidak mau berurusan dengan paparazzi lagi, jika penyamarannya terbongkar.
Taecyeon nampak sangat
senang menikmati udara musim semi. Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam
jaket kulit berwarna coklat muda. Kuperhatikan dia, dia nampak berbeda dengan
pria biasa lainnya. Dengan sneaker hitam, jeans hitam, jaket kulit, kaos hitam,
dan topi coklat serta kaca mata hitamnya membuatnya nampak tampan. Tak heran
jika beberapa gadis muda yang kami lewati menoleh melihatnya. Dia tersenyum
santai pada semua orang, dan nampak sangat percaya diri dengan penyamarannya.
Entah kenapa aku merasa penyamarannya ini tidak begitu berguna. Karena dia
masih saja menarik perhatian banyak orang.
“Ayo cepat.” Dia meraih
tanganku dan berjalan lebih cepat. Aku diam saja, tidak nampak senang tidak
juga bersikap tidak menyenangkan. Aku hanya berharap ini cepat selesai agar aku
benar-benar bisa kembali ke duniaku tanpa gangguan.
Taecyeon menghentikan
langkahnya tiba-tiba, membuatku sedikit menambraknya. Dia tertawa dan sangat
bersemangat menunjuk sebuah tempat yang dipadati pengunjung, dan aku baru sadar
kalau kami kembali ke Pantai Haeundae. Di pintu gerbang pantai tepatnya di Aquarium
Busan nampak padat dikunjungi wisatawan asing. Aku tak menyangka, dia membawaku
ke sini. Apa yang ingin dilihatnya? Ikan? Makhluk-makhluk air? Dia benar-benar
diluar dugaan.
Dia bersemangat sekali,
membeli tiket masuk untuk kami berdua dan memaksaku masuk bersamanya. Kami
masuk melalui pintu depan berjalan menuju aquarium raksasa. Taecyeon nampak
terpanah melihat ikan-ikan kecil berwarna-warni di sini. Kami berjalan terus
menikmati pemandangan air yang dipenuhi makhluk-makhluk menakjubkan yang indah.
ada l;ebih dari 300 spesies ikan dengan berbagai ukuran dan makhluk-makhluk air
lainnya seperti kuda laut, ubur-ubur, anjing laut dan lain-lain. Ada ikan yang
terlihat seperti bunglon. Taecyeon sangat tertarik padanya sampai-sampai
meninggalkanku sendirian dan berlari mencoba melihat ikan itu lebih dekat. Aku
menahan tawa melihatnya. Tapi jujur saja, aku mulai menikmati liburan yang
tiba-tiba ini
“Hei, kau, cepat ke
sini!” ujarnya memintaku menghampirinya. Aku bisa melihat guratan antusiasme di
wajahnya yang tampan, “bisa tolong foto aku?” Taecyeon merogoh sakunya dan
mengambil ponselnya. Dia memberikan padaku dan memintaku mengambil foto untuknya.
Dia tersenyum dan aku memotretnya beberapa kali dengan berbagai pose. Lalu,
kukembalikan ponselnya. Aku meninggalkan dia yang masih terpikat pada ikan-ikan
kecil lainnya menuju aquarium tempat ubur-ubur berada.
Beberapa ubur-ubur
melayang di hadapanku, terlihat cantik membuatku benar-benar terpana. Tubuhnya
yang tembus pandang, ada pula yang memancarkan cahaya dari tubuhnya. Indah
sekali membuatku melupakan semua kekesalanku pada Taecyeon yang memaksaku pergi
bersamanya.
“Kau suka itu?” ujarnya
mengejutkanku. Aku tersenyum untuk pertama kalinya padanya dan dia nampak
tertarik pada ubur-ubur itu.
“Mereka cantik yah.”
“Kau benar, lihat! Ada
yang bercahaya.”
“Itu ubur-ubur polip, mereka
yang paling cantik bagiku.”
Tiba-tiba dia menarikku
dan membuatku bersebelahan dengannya. Dia mengalungkan satu lengannya di
pundakku.
“Apa yang kau….”
“Kita berfoto untuk kenang-kenangan,”
ujarnya. Aku tersenyum menandakan bahwa aku tidak keberatan dengan idenya.
Ternyata selain gila, Taecyeon juga narsis seperti pria lainnya. aku geli
sendiri membayangkan seorang idola bersikap seperti ini.
Taecyeon mengambil ponselnya dan menyuruhku
untuk tersenyum saat dia mengambil gambar kami berdua dengan kamera depan dari
ponselnya. Karena Taecyeon yang terlalu antusias mengambil beberapa gambar
tanpa sengaja topinya terlepas, dan membuat orang-orang melihat ke arah kami
berdua. Sepertinya mereka mulai sadar siapa pria berkacamata dan bertopi ini. Taecyeon
tidak sempat mengambil topinya lagi saat seorang gadis gemuk berkacamata
berteriak memanggil namanya.
“Itu Taecyeon oppa!” teriaknya.
Semua mata para gadis beralih padanya dan dengan sigap Taecyeon menarikku
keluar dari kerumunan para gadis yang mengambil ponsel mereka untuk mengambil
gambar kami berdua.
Kami berlari secepat
yang kami bisa, diikuti gadis-gadis yang berteriak-teriak memanggil namanya.
Dia panik dan membawaku lari secepat mungkin meninggalkan tempat itu menuju
pantai. Aku dan dia sama-sama bingung mau bersembunyi dimana sampai Taecyeon
memilih membawaku berlari menuju mobilnya.
***
“Tadi benar-benar
menyenangkan,” ujarnya tertawa.
“Kau benar-benar aneh,”
aku pun tertawa. Aku senang, entah mengapa aku merasa ini menyenangkan.
“Terimakasih kau mau
menemaniku hari ini.”
“Tak masalah, ini
pengalaman unik untukku.”
“Jadi, kau sudah
memaafkanku?”
“Bukankah sudah
kukatakan, aku sudah melupakannya. Tapi kau yang selalu ngotot dan membuatku
kesal.”
“Baguslah, aku senang.
Sekali lagi maafkan aku atas kejadian waktu itu. Tapi, sepertinya aku harus
lebih berterimakasih pada mereka yang mengejarku waktu itu.”
“Maksudmu?”
“Ah …, tidak, lupakan
saja. Bukan apa-apa.” Taecyeon tersenyum lalu mengalihkan pandangannya dariku.
Hening sesaat, aku
mencoba mencerna apa yang baru saja dikatakannya, namun Taecyeon tiba-tiba
mengejutkanku. Wajahku memerah, entah karena merasa panas karena berlari atau
karena hal lain, Taecyeon sama canggungnya denganku, membuatku bingung harus
bersikap apa.
“Terimakasih,” ujarku
tiba-tiba membuatnya tersenyum. Aku bingung kenapa aku mengucapkan terimakasih
padanya?
“Sudah waktunya aku
kembali ke lokasi, para kru menungguku sore ini,” ujarnya ketika melihat
arlojinya, “aku akan menemuimu lagi jika aku kembali ke sini. Dan kau harus
menemaniku lagi.”
Aku tersenyum, “aku turun dulu, terima kasih
atas kopinya.”
“Aku masih punya hutang
segelas kopi lagi padamu. Aku akan mengundangmu ke Seoul untuk membayar
hutangku, dan kau harus datang. “
“Lagi-lagi kau
memikirkan itu. Sudahlah, jangan dipikirkan. Lagipula, kau sudah mengantinya
tadi.”
“Baru satu gelas,
bukan? Itu artinya aku masih berhutang satu padamu,” ujarnya tersenyum.
Aku tertawa, aku
menyerah. Kalau dia bersikeras silahkan saja. Lagipula, mana mungkin dia
benar-benar memintaku datang. Aku membuka pintu mobilnya, dan saat akan
beranjak pergi dia memanggilku lagi.
“Tunggu dulu,” ujar Taecyeon menahanku saat
aku akan keluar dari mobilnya, “siapa namamu?”
Dia lagi-lagi membuatku
tersipu, aku tersenyum padanya. Rasanya bagaimana mungkin setelah semua hal
terjadi dia bahkan belum mengetahui namaku. “Namaku Meng Jia, kau bisa
memanggilku Jia.”
“Jia, terimakasih untuk
hari ini.” Kata-katanya terdengar tulus.
“Sama-sama, kalau
begitu selamat tinggal.” Aku menutup pintu mobilnya dan dia beranjak pergi.
***
Keesokan harinya kabar
Taecyeon yang berkencan dengan seorang gadis tersebar di media masa, di
internet, dan stasiun tv. Untung saja tidak ada seorangpun yang berhasil
menangkap foto kami dengan jelas. Jadi identitasku tidak terbongkar. Aku tidak
akan tahan jika orang-orang itu tahu kalau aku lah gadis itu.
Beberapa hari berlalu
dengan berita yang kini sudah sedikit terlupakan dengan fakta bahwa 2pm
mengeluarkan album baru mereka. Sepertinya semua orang sudah melupakan kejadian
itu. Kini semua terfokus akan topik album baru mereka. Sejak saat itu aku dan Taecyeon
tidak pernah bertemu lagi. Sesuai keinginanku dulu, tapi entah mengapa, kini
aku merindukannya. Sesekali aku sadar bahwa aku mungkin sudah gila, karena
berharap dia akan datang dan memintaku menemuinya seperti yang pernah dia
katakan. Tapi aku harus mengubur keinginan itu dalam-dalam agar aku tidak
kecewa. Aku sudah mantap melupakannya sampai tiba-tiba ponselku bergetar, kulihat
sebuah pesan masuk. Kubuka pesan itu dan aku tak menyangka Taecyeon mengirimkan
pesan singkat padaku.
Temui
aku di Cheonggyecheon Stream besok jam tujuh malam.
Taecyeon
Aku terkejut melihat
isi pesan itu. Dia memintaku menemuinya di sana. Aku harus menjawab apa? Aku
harus pergi atau tidak? Dia memintaku ke Seoul, seperti janjinya dan aku sudah
berjanji akan menerima undangannya. Aku mengigit bibir sebelum membalas
pesannya, menimbang-nimbang aku harus datang atau tidak. Aku menutup mataku dan
mengambil sebuah keputusan.
Baiklah,
besok jam tujuh malam.
Kukirimkan pesan
singkat itu padanya dan keanehan menjalariku. Entah perasaan apa ini tapi aku
benar-benar bersemangat menanti hari esok dimana aku dan dia akan bertemu.
***
Pagi ini matahari musim
semi memanjakan orang-orang yang bermain di pantai. Membuat perasaan hangat
menjalari setiap orang yang menghabiskan paginya di sana. Aku duduk di ambang
jendela sambil membuat catatan kecil dalam ponselku. Aku tersenyum setelah
menyelesaikan catatanku. Aku melirik jam dinding yang kini menunjukkan pukul
delapan pagi. Aku harus bersiap pikirku. Aku mengambil gaun putih dan segera
berganti pakain. Kukenakan gaun itu, nampak indah. Gaun putih sederhana
berbahan satin sudah menutupi tubuhku, dan rambutku sudah tertata rapi. Aku
memakai arlojiku dan memandangi wajahku di cermin. Dandananku tidak begitu
mencolok, aku tidak ingin Taecyeon berpikir kalau aku sengaja berdandan
untuknya. Aku tidak ingin menganggap ini sebuah kencan, dia jelas-jelas
mengundangku hanya untuk membalas hutangnya. Aku tidak ingin nampak bodoh di hadapannya.
Gaun tak berlengan ini sedikit berlebihan, pikirku. Aku mengambil sweater
berwarna peach dan mengenakannya agar gaun ini terlihat lebih santai. Yah,
terlihat lebih baik. Aku menarik tas kecilku, memakai flatshoes-ku, lalu berangkat meninggalkan rumah.
Sepanjang perjalanan aku
merasa gelisah, entah kenapa aku merasa sesuatu menganjal dalam hatiku. Aku
tiba-tiba menyangsikan apa yang sedang aku lakukan. Aku tidak yakin kalau
menemuinya adalah hal yang tepat untuk kulakukan saat ini, apalagi setelah isu
yang menimpanya waktu itu. Apa kali ini dia akan lebih berhati-hati, sehingga
tidak menimbulkan gossip lagi?
Ini Seoul, dimana
dindingpun bisa mendengar dan melihat apa saja yang dilakukan oleh bintang
idola. Paparazzi akan berada
dimana-mana tanpa kita sadari. Apa ini hal yang tepat untuk dilakukan setelah
mempertimbangkan semua situasi ini? Apa dia sudah memikirkan segala resiko ini?
Aku masih tidak bisa
tenang, rasa senang bercampur keraguan menggelayutiku. Aku tak bisa menikmati
perjalanan yang memakan waktu berjam-jam dari Busan menuju Seoul hingga tanpa
terasa sudah pukul enam sore. Aku sudah tiba di Seoul dan masih dalam
perjalanan menuju Cheonggyecheon Stream.
Setibanya di sana, matahari
sudah tenggelam dan malam pun menggantikan siang. Lampu-lampu kota menyala
menerangi jalan raya. Aku berdiri menunggunya. Banyak pasangan di sini, dan ini
membuatku terlihat bodoh. Semua berpasangan dan aku sendirian menunggu
seseorang yang belum juga tiba. Pukul delapan Taecyeon tidak juga menunjukkan
tanda-tanda kehadirannya. Perasaanku semakin gundah seiring gemercik air yang
mengalir di hadapanku dan menuju sungai Han. Aku memperhatikan air yang
mengalir itu dan terus memegangi ponselku, berharap dia menghubungiku dan
mengatakan bahwa dia sedang terjebak macet atau apa pun yang membuatku yakin
kalau dia akan datang. Karena kalau sampai dia tidak datang, aku benar-benar
sudah menjadi gadis bodoh.
Jangan-jangan dia lupa?
Tapi bagaimana mungkin? Dia yang memintaku untuk datang! Atau mungkin dia
mempermainkanku! Bodohnya aku! Bagaimana bisa aku percaya begitu saja pada
pesan itu! Lagipula apa yang aku harapkan? Dia datang menepati janjinya? Tidak,
tentu saja tidak.
Airmataku mengalir,
entah aku merasa seperti gadis bodoh saat ini. Sendirian berdiri dalam
kerumunan pasangan yang bersenang-senang. Apa yang aku pikirkan? Pikiranku
sudah benar-benar kacau. Aku merasa bodoh, merasa tertipu, dan mertasa
dipermainkan. Bagaimana bisa aku melakukan kekonyolan ini.
Pukul sembilan malam.
Aku tidak mungkin menunggunya lagi, dan aku tidak mungkin menghubunginya. Apa
yang akan dia pikirkan tentangku jika aku menghubunginya sekarang. Sudah cukup!
Jangan sampai dia tahu kalau aku menunggunya di sini. Lebih baik aku bersikap
seolah-olah tidak pernah datang ke tempat ini.
Aku beranjak pergi
meninggalkan Cheonggyecheon Stream yang semakin ramai dipenuhi pasangan kekasih
yang menghabiskan malam bersama. Aku baru menyadari ini, tempat ini memang
tempat romantis yang biasa dikunjungi para pasangan. Lalu kenapa dia mengajakku
ke tempat ini?
Sesuatu seperti
hantaman keras menyadarkanku. Tidak, ini pasti suatu kesalahan. Mana mungkin
dia mengajakku ke tempat ini. Ini pasti kesalahan, yah, pasti kesalahan!
Sedikit tidak percaya dengan kebodohan yang kulakukan. Sebenarnya apa yang
kuharapkan? Apa semua ini ada artinya? Dia sama sekali tidak memiliki perasaan
apa-apa padaku! Perasaan? Astaga, apa yang kupikirkan? Mana mungkin aku
berpikir kalau Taecyeon memiliki perasaan padaku, kejadian itu hanya sesuatu
yang tidak disengaja. Yah, lebih tepatnya dia seperti sedang mempermainkanku!
Aku bergulat dengan pikiranku sambil terus menyeka airmataku hingga tanpa sadar
aku sudah pergi cukup jauh dari sana. Aku masih begitu menyesal, kenapa aku menjadi
gadis bodoh yang mudah dipermainkan! Kekalutanku membuatku tak memperhatikan
sekelilingku hingga akhirnya aku tersadar saat bunyi klakson mobil memecah
kebingunganku. Seketika itu juga kulihat cahaya lampu mobil yang meyiramiku dan
BRUK!
***
Tubuhku seakan remuk,
semuanya terasa sakit dan tak bisa digerakan. Dengan perlahan kubuka mataku
semua nampak samar, aku tak bisa melihat sekelilingku dengan jelas. Kepalaku
terasa sangat sakit sampai aku berteriak. Berteriak? Yah aku berteriak, tapi
dimana suaraku? Aku sudah berteriak sekeras ini tapi tak ada suara teriakanku!
Hanya suara parau yang keluar dari tenggorokanku.
Apa yang terjadi?
Dimana ini? Kenapa aku bisa ada disini? Semua pertanyaan itu membuat kepalaku
semakin sakit. Aku berteriak semampuku tapi tetap saja tak terdengar oleh siapa
pun. Sampai aku terjatuh dari tempat tidur ini, membuat sebuah gelas terjatuh
dan menjatuhkan tiang infus membuat suara yang berkelontang sangat besar. Tidak
lama seorang Suster masuk dan membantuku yang sudah terjatuh tepat di samping
pecahan beling yang menusuk kakiku. Aku menangis sejadi-jadinya. Bingung dengan
semua yang terjadi padaku.
“Nona, apa yang kau
lakukan?” ujar suster itu panik.
Dia berusaha membantuku
berdiri tapi aku menolak dan mendorongnya menjauh. Suster itu terus memaksa
untuk membantuku. Aku berteriak memarahinya dan memintanya untuk pergi tapi tak
ada suara, hanya geraman yang membuat suster itu bingung dengan apa yang
sebenarnya aku katakan. Aku benar-benar kacau. Menjerit menangis sejadi-jadinya
sampai suster itu menekan bel darurat di meja yang ada di hadapanku. Aku mendengar
derap kaki mendekat dan benar saja dua suster bersama seorang dokter muncul dan
berusaha menenangkanku yang mengamuk. Aku melemparkan semua yang ada di meja
itu. vas, kalender dan buah-buahan yang entah dari siapa ke segala arah,
membuat mereka kesulitan mendekatiku. Aku tidak tahu apa yang kulakukan hanya
saja membuat semakin banyak keributan membuatku merasa ingin berteriak
sekeras-kerasnya agar aku bisa mendengar suaraku. Tapi sia-sia saja, tak ada
suara teriakanku sekeras apapun aku berteriak. Salah satu suster menyiapkan
suntikan penenang untukku, aku berusaha menepisnya tapi tak bisa, tubuhku lemas
dan rasa sakit di sekujur tubuhku membuat pertahananku goyah saat tiga suster
itu berpegangan menahanku dan dokter berhasil menyuntikku dengan suntikan
penenang. Aku tidak bisa bergerak, semakin lemah hingga akhirnya aku kehilangan
kesadaranku sepenuhnya.
***
Aku terbangun dan
melihat kesekelilingku, ternyata itu bukan mimpi. Aku benar-benar berada di
rumah sakit. Aku berusaha mengingat kejadian terakhir yang aku alami sebelum
aku tak sadarkan diri, meski tidak begitu teringat sepenuhnya. Yang kuingat
hanya siraman cahaya lampu mobil yang mendekat ke arahku dan tiba-tiba aku sudah
berada disini. Mungkinkah seseorang yang menabrakku yang membawaku ke rumah
sakit ini?
“Kau sudah sadar?” ujar
seorang pria mengejutkanku.
Mataku terbelalak
menatapnya. Kenapa dia ada disini? Aku ketakutan, dan itu terpancar jelas di
wajahku. Aku ingin berteriak tapi dia mencoba menenangkanku.
“Tenang, jangan takut.
Apa ada yang sakit? Akan ku panggilkan dokter.”
Aku menggelengkan
kepalaku. Dia nampak bingung dengan apa yang ingin kukatan, wajahku menyiratkan
kemarahan, ketakutan, dan kepanikan secara bersamaan.
“Aku dengar kau tidak
bisa bicara. Ini semua salahku, seandainya aku tidak banyak minum malam itu,
andai saja aku melihatmu menyebrang. Tapi sebenarnya apa yang kau lakukan malam
itu? Maksudku, kau berjalan seperti orang yang kebingungan sampai tidak melihat
kalau kau tidak boleh menyebrang.” Pria yang kukenali ini nampak bingung dan
khawatir melihat kondisiku. Airmataku jatuh lagi ketika teringat kejadian malam
itu. Semua ini karena dia! Taecyeon! Dia yang membuatku jadi begini!
“Namaku Hwang Changsung,
kau mungkin sudah mengenalku,” dia terlihat bingung saat melihat kekagetan
tersirat di wajahku, “maksudku yah aku anggota grup 2pm, kau tidak salah
melihat. Aku benar-benar minta maaf karena telah membuatmu jadi begini. Ini
semua karena kesalahanku.”
Aku mengalihkan
perhatianku darinya dan menyeka airmataku. Tanganku yang terluka masih terasa
sakit, dan perban di kepalaku menandakan luka yang cukup serius. Aku ingin
bicara, aku ingin mengatakan sesuatu padanya tapi tidak bisa. Apapun yang coba
aku katakan dia tak akan mengerti. Melihatku yang bergumam Changsung seakan
mengerti kondisiku. Dia mengambil secarik kertas dan pena yang diletakkan di
meja yang ada di sampingku dan memberikannya padaku.
“Kalau kau mau
mengatakan sesuatu, kau bisa menuliskannya disini,” ujarnya berusaha untuk
tidak menyinggungku, “aku berjanji aku akan menjagamu sampai kau benar-benar
pulih.”
Aku menulis sesuatu di kertas
itu. Semua yang ingin kukatakan padanya. Aku hanya ingin pulang, aku ingin
pulang ke rumahku. Hanya itu yang aku mau.
“Tapi kau belum pulih.
Akan berbahaya jika kau kembali ke Busan. Aku akan membawamu pulang saat kau
sudah membaik. Aku berusaha memberitahu keluargamu tapi tak ada seorang pun
yang bisa kuhubungi. Apa kau tidak tinggal dengan keluargamu? Apa ada seseorang
yang bisa kuhubungi untuk menjaganmu selagi aku tidak disini?”
Aku menggelengkan
kepalaku. Aku menulis lagi di kertas itu dan dia membacanya. Wajahnya nampak
iba padaku, aku bisa melihat itu, tapi aku tidak membutuhkan belas kasihan
darinya. Aku tidak menyalahkannya karena membuatku jadi begini, karena aku tahu
semua itu kesalahanku.
Dia masih memandangiku
dan keheningan di antara kami terpecah saat ponselnya berdering. Chansung
merogoh ponselnya dari dalam jaket yang tergeletak di atas kursi tempat dia
tidur selama menungguku siuman. Dan dia berbicara dengan seseorang yang
terhubung dengannya dari kejauhan.
“Iya Taecyeon-hyung, ada apa? Aku sedang di rumah
sakit. Gadis itu sudah sadar dan aku sedang menjaganya disini.”
Apa? Taecyeon. Jadi
benar dia Chansung 2pm, dia berteman dengan Taecyeon. Tidak, itu tidak mungkin,
mana mungkin ada kebetulan seperti ini. Aku berusaha menenangkan diriku agar Chansung
tidak menyadari kepanikanku.
“Kau mau menjenguknya?
Sebentar lagi? Baiklah, apa manajer juga akan datang? Kuharap dia berhasil
mengatasi pertanyaan-pertanyaan mengenai kecelakaan ini. Aku sudah muak dengan
pemberitaan di media,” ujarnya frustasi.
Jadi, berita ini
tersiar? Apa Taecyeon tahu bahwa aku lah gadis yang menjadi korban kecelakaan
itu? Tidak, dia pasti tidak tahu. Dia pasti sudah melupakanku. Tapi kalau
sampai dia melihatku, aku tidak mau dia melihatku dengan keadaanku yang seperti
ini. Aku tidak sanggup bertemu dia. Kepanikan benar-benar menjalariku. Dan
sepertinya Chansung mulai sadar akan kegelisahanku.
“Baiklah, sekitar satu
jam lagi aku akan menunggumu di kafetaria.”
Dia menutup telponnya dan beralih padaku. Dia nampak bingung melihatku yang
ketakutan. Dia segera menekan tombol darurat di meja itu membuat dokter dan
seorang suster segera ada di antara kami.
“Dokter, ada apa
dengannya? Dia tiba-tiba ketakutan seperti ini.”
“Kami akan
memeriksanya, silahkan anda menunggu di luar.”
Changsung nampak sangat
khawatir hingga enggan meninggalkan ruangan ini, tapi dia tak punya pilihan
karena suster sudah memintanya untuk menunggu di luar.
Aku menulis di secarik
kertas dan memberikannya pada dokter yang merawatku. ‘Sebenarnya apa yang
terjadi padaku, Dok? Kenapa aku tidak bisa bicara?’
“Kecelakaan yang anda
alami sangat fatal. Mengakibatkan cedera otak yang cukup mengkhawatirkan sehingga
mengalami Afasia Broca sehingga mengganggu
kemapuan bicara, anda. Jangan khawatir, karena ini bersifat sementara, kami
akan coba melakukan segala yang bisa kami lakukan untuk membantu mengembalikan
kemampuan nona dalam berbicara.” Kata-kata dokter itu membuatku merasa semakin
terpuruk, aku tidak mungkin menjalani pengobatan ini. Aku tidak mungkin bertemu
Taecyeon setelah semua ini terjadi.
Dokter memintaku untuk
banyak beristirahat dan menenangkan pikiranku, lalu meninggalkanku untuk
beristirahat. Tapi tidak, aku tidak mungkin bisa tinggal diam. Aku harus pergi.
Aku melepaskan jarum infus yang ada di tanganku, meski masih lemah aku harus
bergegas mengambil tasku yang diletakkan di atas meja.
Aku menyelinap keluar
dari rumah sakit berjalan sepanjang jalan setapak menuju jalan raya, aku tak
tahu dimana tepatnya aku sekarang. Hanya bermodalkan uang yang ada dalam tasku
sebelum kejadian itu aku menghentikan taksi yang melintas.
Supir itu bertanya
kemana aku ingin pergi dan itu mengejutkanku, bagaimana aku mengatakannya?
Tiba-tiba aku teringat pada ponselku. Kuambil ponselku dan memberitahunya
dengan menuliskan semuanya.
‘Tolong bawa aku ke Cheonggyecheon.’
tulisku. Supir itu mengerti dan melajukan mobilnya menuju tempat yang kumaksud.
Tubuhku sakit, benar-benar sakit. Airmataku mengalir menahan rasa sakit dan
rasa malu jika harus bertemu dia dengan keadaanku yang seperti ini. Kemarahanku
padanya pun belum memudar, karena dia aku jadi begini!
Taksi berhenti di dekat
Cheonggyecheon. Aku berjalan menuju tempat dimana aku menunggunya malam itu.
Banyak mata melihat ke arahku, mungkin karena mereka tak menyangka bagaimana
mungkin seorang pasien rumah sakit kabur ke tempat ini? Aku tidak tahu apa yang
ada dipikiranku, hanya saja aku ingin berada disini.
***
POV TAECYEON
---
“Dia hilang? Maksudmu
orang yang kau tabrak melarikan diri?” ujarku bingung.
“Aku hanya pergi ke kafeteria untuk membeli minuman lalu
saat aku kembali dia sudah menghilang,” Chansung nampak frustasi, “Jia
benar-benar membuatku mati berdiri!”
“Apa katamu? Jia?”
“Iya, gadis itu bernama
Jia. Aku tidak tahu bagaimana agar aku bisa memberitahukan keluarganya sekarang.
Dia tak punya keluarga, aku sudah mengirim seseorang ke Busan untuk mencari
tahu keberadaan keluarganya. dan sekarang dia hilang!”
“Busan? Apa yang kau
maksud Meng Jia?” aku benar-benar terkejut. Bagaimana mungkin itu Jia. tapi
kalau dipikir, semuanya cocok. Kecelakaan itu terjadi tepat di hari yang sama
saat aku mengajaknya bertemu di Cheonggyecheon. Dan kecelakaan itu tidak jauh
dari sana! Bagaimana mungkin aku bisa tidak menyadari hal ini sebelumnya.
“Dimana dia!” teriak Changsung
kesal.
Aku sadar, dan aku
berlari mencarinya. Kemana dia? Jia dimana kau! Aku mencoba menghubunginya tapi
tak tersambung. Aku harus mencarinya kemana?
Cheonggyecheon Stream! Mungkin dia
disana!
***
POV
JIA
---
Aku harus apa? Aku
menangis sejadi-jadinya sampai banyak orang yang melihat ke arahku.
“Jia,” seseorang
mengagetkanku. Taecyeon! Ini suaranya. Aku tak berani membalikkan tubuhku dan
menghadapinya.
“Aku sudah tahu
semuanya, maafkan aku. Ini semua salahku, kalau bukan karena aku kau tidak akan
jadi begini.” Taecyeon benar-benar merasa bersalah. “Malam itu aku tidak bisa
datang, karena mereka semua melarangku. Aku mengirimkan pesan padamu tapi kau
mungkin tidak mendapatkan pesanku.”
Orang-orang yang berada
di sekitar kami histeris melihat Taecyeon tanpa penyamaran apa pun berdiri di
hadapan mereka. Mengajak bicara seorang gadis sepertiku. Mereka berdesakan
mengerumuninya dan Taecyeon nampak berang.
“Tolong, tolong jangan
ganggu kami. Kumohon, aku sedang bicara dengannya. Tolong mengerti, permisi,”
ujar Taecyeon membelah kerumunan para gadis yang terkejut melihat idolanya
bersikap begitu.
Kini dia berhadapan
denganku, para gadis itu melihatku dengan tatapan bingung, jijik, dan marah.
Aku mendelik ke arah mereka semua. Lagi-lagi Taecyeon berhasil membuatku
menjadi pusat perhatian dari orang-orang yang nampak membenci kehadiranku yang
berada di antara mereka.
Aku menatap Taecyeon sampai
airmataku mengalir. Aku tidak mau dia melihatku begini, tapi aku sudah terdesak
di sini. Aku berusaha menyingkirkan kemarahanku pada mereka yang masih saja
mendelik padaku. Taecyeon tiba-tiba memelukku erat sekali mencoba mencurahkan
rasa bersalahnya dan membuat gadis-gadi itu berteriak kesal. Mereka marah, tapi
tak bisa melampiaskannya karena Taecyeon telah meminta mereka untuk tidak
menggangu kami saat ini. Aku mendorongnya menjauh dariku. Aku tidak bisa, dia
tidak boleh memelukku!
“Sebenarnya dulu kita
pernah bertemu. Sebelum aku menabrakmu hari itu. Beberapa kali aku melihatmu di
Pantai Haendae sejak musim panas tahun lalu. Mungkin kau tidak menyadarinya.
Tapi sejak dulu aku sangat senang memperhatikanmu yang duduk di pantai itu
sendirian menikmati laut.” Taecyeon nampak meyakinkanku yang terbelalak
mendengar pernyataannya.
Tidak! Mana mungkin
semua itu terjadi. Dia bohong, dia pasti berbohong padaku! aku tidak boleh
lemah, aku tak bioleh percaya begitu saja.
“Lalu hari itu, tanpa
sengaja aku menabrakmu, lalu aku sadar. Seseorang yang kutabrak adalah gadis
yang selama ini aku perhatikan. Lalu aku berlari memutar arah, berharap bisa
bertemu denganmu lagi. Dan akhirnya aku menabrakmu lagi, membuat mantelmu
kotor. Aku bingung, bukan pertemuan seperti itu yang kuharapkan, tapi keadaan
berkata lain. Saat paparazzi itu
mengejarku, pikiranku hanya bagaimana caranya agar aku bisa kabur dari mereka.
Tapi saat itu kau sudah ada di depan mataku, aku tak mungkin meninggalkanmu di
sana setelah selama ini aku berharap bisa berbicara denganmu.” Kata-katanya
membuatku goyah. Taecyeon nampak benar-benar serius dengan apa yang
dikatakannya. “Karena itulah aku membawamu lari saat itu, dengan begitu aku
punya alasan untuk berbicara denganmu. Kopi itu hanya alasan agar aku bisa
bertemu lagi denganmu dan memperbaiki pandanganmu terhadapku. Aku ingin
mengajakmu pergi tapi aku tak punya alasan untuk mengajakmu. Karena itulah aku
memintamu untuk datang hari itu, aku ingin menceritakan semua ini padamu, dan mengatakan
semua yang aku sembunyikan selama ini.”
Semua yang dikatakannya
terngiang di pikiranku. Dia menabrakku, lalu kopi, yah, itu alasan mengapa dia
memaksa untuk menganti kopi itu padaku. Lalu Aquarium Busan, itu juga alasan
kenapa dia mengajakku kesana dan mengambil foto bersama. Tidak itu tidak
mungkin. Kenapa baru sekarang? Kenapa baru sekarang aku tahu semuanya? Kenapa
saat ini? Kenapa harus saat aku tak pantas lagi dekat dengannya.
Wajahku kini semakin
pucat. tubuhku lemas, tak bisa menerima kenyataan ini. aku membalikan tubuhku,
tak berani melihat Taecyeon yang nampak berharap padaku. Aku menggelengkan
kepalaku mencoba menolak semua ini. Taecyeon masih berdiri di sana saat aku
mulai berjalan perlahan menjauhinya sekaligus mencoba menghilangkan rasa sakit
di kepalaku.
Tidak! Apapun alasannya
aku tidak bisa menerima semua ini. Kini aku sudah cacat. Aku tak pantas menerima
begitru banyak kenyataan ini. Aku tidak mau kembali melakukan kesalahan dengan
mempercayai semua ini.
Aku meninggalkannya,
berusaha tak perduli saat dia memanggilku. Aku terus berjalan lunglai, dan
sesuatu menarik perhatianku. Seseorang berjaket hitam, bertopi hitam, dan
berwajah mencurigakan berjalan cepat tak jauh di depanku. Aku meliriknya dan
mataku menangkap sesuatu yang disematkan di balik jaketnya yang tersingkap.
Pisau? Kepalaku terasa semakin
sakit dan entah mengapa aku merasa pernah melihat pria itu, tapi siapa? Ketika
aku bergulat dengan pikiranku, pria itu sudah melewatiku dan ekspresi wajahnya
terkesan aneh. Dia terlihat marah dan ingin membunuh seseorang. Taecyeon! Jatungku
berdetak cepat, jangan-jangan?
“Jangan!” teriakku tiba-tiba. Gadis-gadis yang
memperhatikan kami sejak tadi berteriak ketakutan. Mereka semua takut melihat
Taecyeon yang diserang, tapi tak satu pun yang berani menolongnya. Aku melihat
pria itu mencoba menusuknya. Aku berlari ke arahnya. Taecyeon memukul pria yang
kini teringat olehku. Dia Kim Yeoshin! Idol
Killer yang selama ini meneror para idol.
Pria itu masih berusaha menusukan
pisaunya. Dia memegang pisaunya dan mengarahkannya pada Taecyeon. Dengan
spontan aku mendorong Taecyeon menjauh dan pisau itu menancap di perutku. Aku
roboh, terjatuh bersimbah darah. Taecyeon memukul Kim Yeoshin hingga pingsan dan
segera memelukku yang lemas bersimbah darah.
“Kenapa? kenapa kau
melakukan semua ini!” teriak Taecyeon dan airmatanya mengalir, “panggil
ambulan, tolong!”
“Taecyeon-shi,
mianhaeyo…, jika aku pergi …, tolong …, jangan…, menyalahkan dirimu,” ujarku
dengan segenap tenaga yang tersisa.
“Jia, kumohon
bertahanlah.” Taecyeon menggendongku dan mencoba berlari membawaku ke Rumah
Sakit. Taecyeon terlihat sangat panik melihatku yang semakin lemah. Tapi, aku
sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi.
“Taecyeon-shi…,
jeongmal saranghaeyo….” Aku berusaha
mengatakan apa yang seharusnya kukatakan malam itu dengan segenap tenaga yang
masih kumiliki. Taecyeon tidak kuat melihatku yang sudah tidak bisa bertahan. Aku
sudah benar-benar tidak kuat, tubuhku semakin lemah hingga akhirnya kesadaranku
memudar seiring dengan kata-kata Taecyeon yang terdengar samar-samar di
telingaku.
“Jia, nado saranghaeyo. Jia …, kumohon….”
***
POV TAECYEON
---
“Kenapa
kau diam saja! Jia, kumohon, aku tahu aku salah, aku lah yang menyebabkan semua
ini terjadi. Kumohon …, aku ingin melihatmu marah, aku ingin kau meneriakiku,
kau boleh memukulku sepuasmu. Jia, kumohon.” Aku memegang erat tangannya yang
lemah. Berapa kali pun aku berteriak, Jia tetap tidak meresponku. “Tidak adakah
yang bisa menolongku! Kenapa kalian diam saja! Panggil ambulan kumohon!”
teriakku putus asa.
Untuk
pertama kalinya dalam hidupku airmataku terjatuh di hadapan semua orang. Aku
memeluk Jia seerat yang kubisa, membuatnya merasa hangat dan bertahan meski aku
tahu semua ini sia-sia.
Aku
kehilangan kesabaran. Aku mencoba menggendongnya lagi dan berlari menuju rumah
sakit. Semua mata menuju ke arahku, tak sedikit orang yang mengambil gambarku.
kenapa mereka tidak mencoba menolongku!
***
“Hyung, apa yang terjadi?” Changsung nampak bingung melihata Jia
yang bersimbah darah dalam pelukanku. Kepanikanku memuncak membuat rumah sakit
itu terganggu dengan teriakan-teriakanku.
“Siapa pun! Tolong bawa
Jia, selamatkan Jia!” teriakanku membuat para suster berlarian mencoba menolong
Jia dan membawanya ke UGD. Mereka membawanya masuk, membuatku menunggu dalam
cemas bersama Chansung yang sepertinya menunggu penjelasan dariku. Tapi ini
bukan waktu yang tepat! Aku harus memastikan bahwa mereka berhasil
menyelamatkan Jia bagaimana pun caranya!
Tidak makan waktu lama,
dokter itu keluar dari ruang UGD dengan wajah muram membuatku semakin
terhenyak.
“Apa yang terjadi? Dia
baik-baik saja kan!” ujarku menuntut.
“Maaf, tapi gadis itu
sudah tidak bisa tertolong. Dia kehilangan terlalu banyak darah, dan saat tiba
di sini dia sudah sangat lemah. Kami menyesal.” Dokter itu meninggalkanku
dengan amarah yang berkecamuk dalam diriku.
“ARGH!” teriakku sekuat
yang kubisa. Aku marah, benar-benar marah dalam diriku. Aku memukul dinding di
depanku dengan kuat untuk melampiaskan kemarahanku. Chansung berusaha
menenangkanku tapi aku memukulnya.
“Ini semua karena kau!
Kau menabraknya!” teriakku. Aku
memukulnya sekuat tenaga yang masih kumiliki untuk melampiaskan kesalahanku.
BRUK! Chansung terjatuh
hampir mengenai kursi di depannya. Dia nampak tak memberi perlawanan. Aku tahu
semua ini bukan semata-mata karenanya. Semua ini salahku. Tapi Chansung
menabraknya! Dia membuat Jia begitu lemah hingga jadi seperti ini! Tidak! Apa
yang kupikirkan kenapa aku menyalahkan semua ini padanya! Aku …, aku lah yang
menyebabkan kecelakaan itu! Jia …, maafkan aku….
***
Pemakaman
Jia berlangsung tidak lama. Selama ini ternyata Jia hidup sendiri tanpa
keluarga. Aku mengurus semua keperluan pemakamannya. Yah, hanya itu yang bisa
aku lakukan untuknya. Aku tidak akan pernah melupakan kesalahan terbesarku
padanya. Kesalahan, bahwa aku tidak berani jujur padanya saat pertama kali kita
bertemu. Kalau saja aku mengatakannya lebih cepat, semua ini tidak akan pernah
terjadi.
Penyesalanku
inilah yang kini membawamu pergi ….
“Taecyeon-hyung,” ujar Chansung mengejutkanku. “Maaf
jika aku lancang, polisi memberikan barang-barang milik Jia yang tertinggal di
tempat kejadian padaku pagi ini. Aku memeriksanya, dan aku menemukann sesuatu
dalam catatan di ponselnya. Aku rasa, Jia ingin kau tahu sesuatu.”
Aku
mengambil ponsel yang diberikan Chansung padaku, membuka apa yang dikatakan
Changsung. Dan benar saja ada catatan terakhir tepat di tanggal yang sama
sebelum kedian kecelakaan itu. Aku membukanya dan membacanya….
Taecyeon benar-benar menepati janjinya! Dia
mengajakku bertemu di sana malam ini. Kira-kira kenapa dia mengajakku bertemu?
jangan-jangan hanya karena membayar hutangnya lagi. Astaga, apa yang aku
pikikan? Perasaan apa sebenarnya yang aku rasakan saat ini. Aku sangat ini
bertemu dia, meski rasanya aku ragu dan takut. Semoga saja mala mini akan
menjadi malam yang indah.
Aku tertunduk lemah di
pusara Jia. Berusaha menguatkan diriku, airmataku tak bisa kubendung sekuat
apapun aku mencoba. Kini aku merasa benar-benar bodoh. Aku kehilangan semuanya
karena menunda apa yang bisa kukatakan hari itu. Kini semua percuma, Jia, gadis
yang selama ini menjadi semangatku sudah pergi. Andai waktu bisa kembali.
***
Aku duduk di Pantai
Haeundae dengan ponsel Jia di tanganku. Aku mencoba menikmati angin musim semi
di sini pada mala mini. Malam sudahh benar-benar larut hingga aku merasa nyaman
di sini sendirian, tanpa perlu khawatir akan otrang lain menggangguku.
Aku membuka ponsel itu,
membaca ulang catatan terakhir miliknya, dan membuat sebuah catatan baru di
ponselnya.
Saat
pertama kali melihatmu di pantai ini, ada sesuatu yang membuat hari-hariku
berubah. Aku merasa kau mengusik hidupku dengan bayanganmu. Ingin sekali aku
menemuimu dan menyapamu, tapi apa daya, situasiku yang sulit membuatku lemah
dan tak bisa memberanikan diri. Hingga kejadian itu, sepertinya Tuhan memberiku
kesempatan untuk mengenalmu, tapi aku menyia-nyiakannya. Ketidakberanianku kini
merenggutmu dariku. Aku mencoba menerima konsekuensi yang sudah sepantasnya
kudapatkan, meski itu sulit. Andai saja kita tidak pernah bertemu, mungkin kau
tidak akan seperti ini. Kau benar, dulu berkali-kali kau katakana aku mengganggu
hidupmu, mengerecokimu, maafkan aku. Kini meskipun kau meninggalkanku, aku
tetap merasa kau ada di sini. Tepat di hatiku, di pikiranku, dan di
kehidupanku. Meskipun kau meninggalkanku, tapi pantai ini tetap saja seperti
memilikimu. Kau dan pantai ini sudah menyatu dalam hatiku. Jia, Even if you
leave me, if I can watch over you, I’m happy, that’s enough. And now, forgive
me, I’m sorry I can’t be at your side.
Aku menyimpan catatan
itu, tersenyum simpul memandang ombak
kecil di depanku dan menghabiskan malam di sana bersamamu dalam hatiku.
***