SNSD

SNSD

Kamis, 23 Oktober 2014

Because I Love You

‘Pertama kali aku bertemu denganmu. Aku tidak mengingat apapun. Tidak teringat apakah langit tampak cerah saat itu, atau malah matahari yang bersembunyi? Karena bagiku… yang terlihat dan teringat jelas hanyalah dirimu’

Langit nampak begitu mendung, seolah-olah ikut menangisi kepergian seseorang yang kini terbaring tak bernyawa. Orang-orang berpakaian hitam itu nampak begitu berduka. Airmata mereka tumpah begitu saja di hadapan pria yang di semayamkan di sana. Yoona tahu semua ini hanyalah mimpi buruk yang tak terbayangkan sebelumnya. Karena itulah dia ingin bangun, dia berusaha membangunkan dirinya meski berulang kali dia mencoba. Sebesar apa pun usahanya, dia masih berdiri di sana menatap lurus pada peti mati itu. Dia bisa melihatnya, sebuah figura berisikan foto sesosok pria yang selama ini mengisi hidupnya ada di atasnya. Yoona tahu, ini tidak mungkin terjadi, semua yang ini pastilah hanya bayangan ketakutan yang entah sejak kapan menggelayutinya.
---
“Ada apa denganmu?” Changmin menghampirinya yang kini pucat bersimbah keringat.
“Changmin-ah, kau tidak apa-apa? Apa kau baik-baik saja?” ujarnya panik.
“Apa yang terjadi padamu, aku baru saja meninggalkanmu sebentar dan kau sudah berkeringat seperti ini. Apa yang terjadi?”
Andwae, gwenchanayo, aku hanya… hanya bermimpi buruk.” Yoona nampak tidak berhasil menyembunyikan kekhawatirannya.
“Sudah, jangan takut, aku ada di sini menemanimu.” Changmin memeluknya dan membantunya berbaring lagi pada tempat tidurnya.
Changmin tahu sesuatu telah terjadi dan Yoona mencoba menyembunyikannya. Tapi Changmin tak punya alasan untuk mendesaknya menceritakan apa yang terjadi padanya, apalagi melihat kondisi Yoona yang kini lemah. Changmin mengurungkan niatnya untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi pada gadisnya  dalam beberapa hari terakhir ini.
---
Andwae! Jangan…, jangan ke sini! Aku mohon tetap di sana!” teriak Yoona dalam tidurnya. Dilihatnya sosok Shim Changmin yang berjalan menemuinya dengan ekspresi bingung yang jelas kentara. Terdengar deru suara mobil yang mendekat dengan kecepatan tinggi dan seketika seseorang tertabrak begitu saja membuat semua orang berteriak terkejut.
“Andwaeyo!” teriaknya. Dia terbangun, terduduk dan terengah. Nafasnya memburu, matanya pun berair dengan wajah nampak pucat. Jantungnya berdegub lebih cepat membuatnya nampak begitu terengah. Masih jelas dalam ingatannya setiap hal yang terjadi dalam mimpinya. Apa maksud dari semua ini? Mana mungkin kecelakaan itu terjadi. Tidak ini pasti mimpi, semua ini  hanya mimpi buruk! Yoona berusaha meyakinkan diri.
---
“Katakan padaku, sebenarnya apa yang terjadi padamu?” Shim Changmin nampak kesal.
Yoona diam saja, dia tidak berani menatap pria yang kini jelas sekali menunggu penjelasan. Ketakutannya memuncak setiap kali memandang kekasihnya itu, kilatan kejadian yang terjadi dalam mimpinya membuatnya takut menghadapi kenyataan bahwa kini dia harus menjelaskan apa yang mengahantuinya beberapa hari ini.
Mianhaeyo, Changmin-ah,  aku hanya bermimpi buruk.” Yoona lagi-lagi mengelak.
“Mimpi buruk? Kalau begitu ceritakan padaku agar aku bisa membantumu lepas dari mimpi burukmu. Sungguh aku tak bisa tahan melihatmu selalu ketakutan setiap kali melihatku!” ujar Changmin geram.
“Tidak, aku tidak bisa. Changmin-ah, maafkan aku tapi aku benar-benar tidak bisa.”
“Baiklah kalau begitu, jangan temui aku kalau kau masih saja tak berani menatapku!” teriaknya kesal.
---

Because I Love You
(Shim Changmin and Im Yoona Fanfiction)
By Nurizda Oktalia

Aku merindukanmu tapi aku tidak bisa mendekatimu
“Ini benar-benar tidak adil bagiku!” Yoona berteriak keras pada dinding yang memantulkan suaranya. “Bagaimana mungkin kukatakan padanya, kalau aku melihatnya terbujur kaku di hadapanku. Bagaimana bisa aku mengatakan kalau dia akan pergi meninggalkanku karena kecelakaan itu? Tidak akan ada yang terjadi! Pasti itu yang akan Changmin katakan. Aku tak mau dia tahu! Aku yakin dia tidak akan percaya dengan apa yang akan kukatakan. Semua orang pasti akan menganggapku gila jika mempercayai mimpi itu!” Yoona nampak berang pada dirinya sendiri.
Dia melempar bantalnya dan bantal itu menjatuhkan kalender yang diletakkan di atas meja belajarnya. Kalender itu terjatuh, Yoona melihat sekilas pada kalender itu. Hari ini tanggal 21 Mei, Tepat satu tahun kebersamaannya bersama Shim Changmin. Tiba-tiba Changmin menghubunginya dan mengajaknya bertemu di suatu tempat. Yoona nampak senang dan segera berdandan secantik mungkin. Mengenakan gaun pendek berwarna putih dengan sepatu flat dan tas tangan di sisi tangannya.
Yoona bergegas menuju menara tepat sepuluh menit sebelum waktu yang Shim Changmin janjikan. Dia terlalu bersemangat melihat Changmin yang datang lebih awal dan sudah menunggunya di seberang jalan. Yoona tersenyum dan melambaikan tangannya. Changmin melihatnya lalu bergegas menemuinya hingga tanpa sadar dia menyebrang sebelum waktunya. Sebuah mobil yang melaju sangat cepat menabraknya dengan kuat membuat tubuh itu terhempas jauh. Pria itu tergeletak dan bersimbah darah. Yoona terdiam, tanpa isakan, tanpa kata-kata. Dia seakan-akan membatu seketika pria itu tak lagi bernyawa.
---
“Yoona, bangun!” teriak ibunya panik.
Yoona membuka matanya, kali ini dia tidak berkeringat tapi airmatanya tumpah begitu saja tanpa dia sadari, nafasnya memburu begitu cepat membuat jangtungnya terasa sakit. Wajahnya memucat dan akhirnya menyadari keberadaan ibunya yang nampak begitu khawatir lalu memeluknya seerat yang dia bisa.
“Eomma, katakan padaku kalau ini semua hanya mimpi!” teriaknya histeris.
“Apa maksudmu, nak?” Wanita paruh baya itu nampak bingung.
“Shim Changmin, dimana dia?  Apa yang terjadi padanya?” tanya Yoona panik.
“Changmin-shi? Apa kau lupa? Dia pergi ke Seoul bersama ibunya dua hari yang lalu. bukankah kemarin kau sudah bertemu dengannya di sana?”
Yoona nampak bingung, dia berusaha membedakan mana mimpi dan mana kenyataan. semuanya nampak begitu nyata. Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa dia begitu ketakutan dan membayangkan hal yang tidak-tidak terjadi pada kekasihnya.
Cheosonghamnida eomma, aku hanya mimpi buruk.” Yoona mencoba untuk tenang dan membuat ibunya tidak bertanya-tanya lagi tenatng apa yang ada dalam mimpinya.
“Kalau begitu lebih baik kau bangun, dan mandi. Kau lihat wajahmu begitu pucat. Apa kau sakit?”
Andwae, aku baik-baik saja.”
---
Kenyataan aku harus meninggalkanmu
Sejak kejadian itu Shim Changmin benar-benar tidak menghubunginya. Yoona tahu ini semua kesalahannya, tidak seharusnya Changmin menyadari ketakutannya. Tapi bagaimana mungkin tidak? Dia sadar betapa tidak beraninya dia menatap mata pria itu lagi sejak mimpi itu menghantuinya.
Yoona nampak sengsara dengan semua ini. Bagaimana pun tak seharusnya Changmin melupakannya begitu saja. Sudah seharusnya dia menghubunginya tapi ancaman Changmin membuatnya tidak mampu untuk bertemu dengannya.
Yoona mengambil ponselnya, melihat pesan masuk tertera pada layar.
“Bisa kita bertemu besok malam?” ujar Shim Changmin dalam pesan singkat yang dia kirimkan.
“Dimana?” balasnya.
“Aku akan datang ke rumahmu, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu.”
“Baiklah, aku menunggumu di rumah.”
---
Kau, yang memberiku  begitu banyak cinta yang hangat
“Apa ini?” Yoona nampak takjub melihat foto-fotonya yang berbaris dalam bentuk yang indah layaknya sebuah pohon cinta.
“Apa kau suka?” ujar Changmin nampak lega.
“Tapi kapan kau membuatnya?”
“Semalaman,” ujarnya dengan senyum di wajahnya.
“Indah sekali, kau pasti benar-benar menyukaiku,” candanya.
“Kau percaya diri sekali.” Changmin tertawa kecil, “Mianhaeyo, seharusnya aku tidak bersikap sekeras itu padamu.”
“Lupakan saja, aku tak mau mengingatnya lagi. Ngomong-ngomong aku harus membawa ini masuk sebelum tetangga melihatnya.” Yoona nampak sungguh-sungguh dengan apa yang dikatakannya. seketika ketakutannya pada mimpi itu menghilang begitu saja.
---
Mungkin aku akan menyesal telah meninggalkanmu Tapi semua ini karena aku mencintaimu
“Apa kau punya waktu malam ini? Aku ingin mengajakmu pergi. Kau mau?”
“Tentu saja,”
“Kalau begitu temui aku di depan menara pukul tujuh. Aku akan menunggumu di sana.”
Sambungan telpon itu terputus begitu saja, entah mengapa Yoona merasa terganggu dengan kekhawatiran yang tiba-tiba saja menggelayutinya lagi. Dia tak tahu apa yang terjadi padanya, hanya saja dia segera bergegas mempersiakan diri untuk acara malam ini.
---
Kegelisahan di hatinya semakin menjadi saat Yoona melewati jalan-jalan berliku menuju menara. Dia tahu betul kini dia sedikit terlambat tapi dia tak bisa berjalan lebih cepat lagi. Jantungnya berdegub terlalu cepat. sampai tiba-tiba kesadarannya kembali saat seseorang menabraknya.
Cheosonghamnida,” ujar sosok gadis yang membawa bertumpuk koran hari ini. Yoona membantu merapikan koran-koran yang kini berserakan dan seketika membeku. Matanya tertuju pada tanggal penerbitan koran ini. Sesuatu menyadarkannya membuat jangtungnya semakin berdegub kencang lagi.
“Apa ini koran hari ini?” ujar Yoona bergetar.
Ne agashi, ada apa?” ujar gadis itu bingung melihat ekspresi Yoona yang nampak membatu seketika.
Yoona tak tahu apa yang sedang dipikirkannya sekarang. Hanya saja dia menggerling pada arlojinya yang sudah menunjukkan pukul delapan malam. Dia lagi-lagi melihat tanggal penerbitan koran itu, keringat mulai membanjirinya. Dia berdiri melepaskan lagi koran-koran itu dan menyadari dirinya mengenakan gaun putih malam itu. Yoona nampak begitu panik, mengambil ponselnya dalam tas tangannya dan menekan tombol-tombolnya.
Panggilan belum juga tersambung, entah siapa yang ingin dia hubungi tapi Yoona benar-benar panik sehingga membuat gadis yang menabraknya memperhatikannya.
”Apa yang terjadi?” ujar gadis itu bingung.
Yoona diam saja, masih mencoba menghubungi seseorang yang tidak juga mengangkat telponnya hingga bunyi pesan yang memintanya meninggalkan pesan.
“Changmin-ah, dengarkan aku baik-baik. Kau harus dengar! Aku akan pergi menemuimu, tidak akan lama lagi aku akan tiba di sana. Jangan kemana-mana, aku akan menjelaskannya nanti jika kita bertemu.” ujar Yoona nampak bergetar dalam suaranya yang tenggelam karena kepanikan.
---
Yoona berlari meninggalkan gadis dengan koran itu masih di sana. Dia yakin Changmin sudah mendengar pesannya. Karena jika tidak, ketakutannya selama ini benar-benar akan terjadi. Dia berlari secepat yang dia bisa namun langkahnya sedikit terhalangi karena sepatu hak tinggi yang dikenakannya. Dia tak punya waktu untuk mengeluhkan rasa sakit pada kakinya karena saat ini dia harus segera bertemu Changmin dan mengatakan semuanya.
---

Saat ini aku hanya memberimu luka

 “Changmin-ah,” teriak Yoona melambaikan tangan pada sosok Changmin yang berdiri di seberangnya.
Changmin tersenyum penuh arti, dengan seikat bunga yang dibawanya dia menyebrang melewati zebra cross bersama pejalan kaki lainnya. Yoona nampak teringat mimpinya dan berteriak seketika.
Andwae! Tetap di sana!”
Changmin terkejut dan beberapa pejalan kaki lainnya pun ikut menghentikan langkah mereka sehingga membuat kemacetan yang tak terelakan. Mereka memandang galak pada Yoona yang berwajah pucat. Changmin nampak bingung, tapi segera menghapus keterkejutannya dengan kembali berjalan menuju Yoona yang nampak sedikit lega.
“Apa yang terjadi?” ujarnya.
“Tidak, tidak apa-apa.” gugupnya.
“Baiklah, lupakan hal itu. Kau cantik sekali malam ini,” ujarnya membuat Yoona tersipu.
“Apa ini untukku?” ujar Yoona mencoba mengalihkan kepanikannya dan menunjuk seikat bunga yang ada pada Changmin.
“Kau tahu, kau ini benar-benar percaya diri.” ujarnya tertawa.
“Oh, kalau itu bukan untukku, sekarang katakana untuk gadis mana lagi?”
Changmin tersenyum melihat Yoona yang berwajah masam. dia tahu betul kalau gadis ini benar.
“Baiklah, ini untukmu saja. Kurasa bunga ini sudah sama sepertimu. Sama-sama cantik.”
Gomawoyo, Changmin-ah, kau membuatku malu.”
“Kalau begitu mari kita pergi,” ujar Changmin mengajak Yoona yang nampak begitu bahagia memegangi bunga itu.
Mereka berjalan menyisiri jalan setapak yang kini cukup ramai pada malam hari. Lampu-lampu mulai menerangi malam, membuat mereka merasa nyaman dan mengisyaratkan keromantisan yang sederhana namun syarat akan makna bagi mereka. Changmin mengajaknya duduk di taman kota yang dipenuhi banyak pasang kekasih. mereka nampak sama bahagianya.
“Kau tunggu di sini, akan kubelikan es krim untukmu.”
“Jangan lama-lama ya,”
Changmin membeli dua buah es krim coklat dan memasukkan sesuatu pada eskrim itu. Yoona sudah cukup lama menunggunya dan mulai merasa kesal. Saat dia kembali dengan dua es krim di tangannya membuat Yoona kembali ceria. Dia memberikan satu buah padanya dan Yoona menikmatinya dengan tawa bahagia.
Changmin menunggu sesuatu yang bisa membuat Yoona semakin bahagia, namun Yoona masih saja menikmati es krimnya. Changmin nampak bingung hingga melupakan miliknya yang sudah meleleh dan mengotori tangannya.
“Kau kenapa?” ujar Yoona bingung.
“Ah, tidak apa-apa.” Changmin salah tingkah. Dia sendiri bingung kenapa ini bisa terjadi. Yoona nampak asyik memakannya dan ini membuat Changmin semakin bingung. Kekesalan memuncak dalam dirinya namun tiba-tiba Yoona berhenti menikmati es krimnya. Dia diam saja dan mencoba mengeluarkan sesuatu dari dalam mulutnya. Sesuatu yang kecil dan nampak begitu berkilau diterangi cahaya.
“Apa ini?” ujarnya bingung.
Senyum merekah pada wajah tampan Changmin, Akhirnya hal yang dia tunggu-tunggu datang. Dia berlutut di hadapan gadis itu. Membuat gadis itu nampak bingung. Changmin berusaha memberanikan diri berbicara. Suaranya lembut namun mantap mengatakan kata-kata yang membuat Yoona terpaku.
“Yoona-shi, maukah kau menikah denganku?”
Yoona memandangi wajahnya yang tampan, senyum merekah di wajahnya. Baru saja Yoona ingin menerima lamaran itu tiba-tiba kilatan akan mimpi-mimpi itu muncul. Lebih jelas bahkan sangat jelas, membuatnya berteriak histeris.
“Jangan! Tidak! Itu tidak mungkin! Jangan dia, kumohon, Biarkan aku saja!” teriaknya pada diri sendiri. Dia memegangi kepalanya dan berteriak makin keras. Membuat tidak sedikit orang memperhatikan mereka. Changmin nampak bingung dan mencoba menenangkannya.
“Yoona-ah, apa yang terjadi? Apa kau baik-baik saja?”
“Tidak! Kubilang jangan! Biarkan aku saja!” teriak Yoona pada dirinya lagi.
Changmin berusaha terus untuk menenangkannya namun tak berhasil. Dia memeluk gadis itu tapi Yoona masih saja nampak begitu ketakutan. Airmatanya tumpah begitu saja. Dia tidak tahu harus berbuat apa, seketika diciumnya gadis itu. Yoona terdiam, berhenti berteriak. Namun airmatanya masih membanjirinya. Dia melepaskan ciumannya dan menghapus airmata gadis itu.
“Kau kenapa?” ujaranya pelan.
“Aku….”
“Sebenarnya apa yang ada dalam mimpimu akhir-akhir ini? Kau benar-benar berubah sejak mimpi-mimpi itu menghantuimu.”
“Tidak… tidak, bukan apa-apa. Maafkan aku,”
“Katakan!” ujar Changmin tegas, membuat Yoona menatap lurus pada mata itu.
“Aku melihatnya begitu saja, mobil itu, mobil itu menabrakmu di sana.” Yoona nampak histeris.
“Mobil? Apa maksudmu?” Changmin kini semakin bingung.
“Saat itu kau ingin menemuiku, dan mobil itu melintas dengan cepat dan kau…, kau….”
“Aku meninggal begitu saja? Itu yang kau lihat?”
“Changmin-ah, mianhae…,”
“Baiklah kalau begitu kita buktikan. aku akan pergi ke manara itu lagi dan aku akan kembali lagi ke sini dalam keadaan baik-baik saja. Kau akan melihatku kembali. Tunggu di sini aku ingin semua ini berakhir! Aku tidak ingin kau mempercayai mimpi burukmu itu!”
“Jangan… jangan, kumohon….”
Changmin tak mengindahkannya. Dia pergi begitu saja menuju menara tempat mereka bertemu. Yoona mengejarnya meski tetap saja Changmin bergerak terlalu cepat. Changmin nampak begitu kesal, dia berjalan terlalu cepat hingga sudah menyebrangi jalan itu begitu saja dan berdiri di depan menara.
Yoona akhirnya berhasil mengejarnya. Kesal namun rasa lega menggelayutinya. Tidak terjadi apa-apa pada pria itu. Changmin nampak puas dengan pembuktiannya, Dia tersenyum lebar mencoba menenangkan Yoona yang menghapus airmatanya.
“Bagaimana apa kau senang? Kau lihat, tidak ada yang terjadi padaku. Aku baik-baik saja. Kalau begitu bagaimana, apa kau menerima lamaranku?” teriaknya.
Yoona tertawa masih dengan airmata yang membanjiri wajahnya, “Baiklah, aku terima.” teriaknya.
Changmin nampak begitu senang. Dia tertawa sekuat-kuatnya membuat banyak mata bingung dibuatnya.
“Tunggu di sana aku akan menyebrang ke sana.”
Yoona mengangguk dan menghapus airmatanya lagi. Changmin nampak sangat antusias. sehingga tidak lagi melihat jalan yang dia lewati. Terdengar klakson dan deru mobil yang mendekat membuat Yoona sadar. Mobil itu melaju dengan sangat cepat, tapi dia tidak menyadarinya. Yoona panik tanpa pikir panjang dia berlari mencoba menyelamatkan Changmin yang kini menyadari mobil yang akan menabrak mereka berdua. Mobil itu mendekat seketika menabrak keduanya bersamaan. Tubuh Changmin yang berhasil di dorong juga ikut tertabrak, dan tubuh Yoona terbawa mobil itu cukup jauh. Seketika keduanya tergeletak bersimbah darah membuat panik orang-orang yang melihat kejadian itu.
---
Para pelayat itu memenuhi pemakaman tempat sosok itu dimakamkan. Isak tangis mengiringi kepergiannya yang tiba-tiba. Keluarga, sahabat, dan para tetangga mengantar kepergiaannya dengan duka yang begitu mendalam. Membuat langit nampak begitu mendung seolah ikut menangisi kepergian sosok itu.
“Maafkan aku, aku tidak bisa melindungimu,” isaknya. sosok itu nampak amat terpukul dengan kepergian yang begitu tiba-tiba. Dia masih di sana, menangisi kepergian orang yang begitu dicintainya.
---
Karena aku mencintaimu
Hari berganti bulan, bulan berganti tahun. Sosok itu duduk pada bibir pantai yang kini sepi, masih menikmati indahnya bintang di bawah sinar bulan. Deru ombak membuatnya teringat pada sosok yang kini hilang dari dirinya. Dia memejamkan mata seolah mengharapkan sesuatu dan ketika membuka mata dia melihat sosok itu. Melihat sosok yang begitu dia rindukan, sosok yang membuatnya terpuruk selama tahun ini. Ketika membuka mata, dia menangkap sebuah bayangan seseorang yang amat dia rindukan.
“Kau…, apa kabarmu? Ternyata kau masih tetap sama. Matamu, hidungmu, wajahmu, tidak ada yang berubah,” isaknya. “Apa kau baik-baik saja? Apakah kau bahagia di sana?” Changmin menitikan airmata melihat sosok Yoona yang muncul di hadapannya.
Gadis itu tersenyum membuatnya merasa semakin merindukan sosoknya yang kini hilang dari dirinya.
“Benarkah? Kau baik-baik saja di sana? Aku benar-benar merindukanmu…, sungguh,” isaknya. “Apa kau bisa memaafkanku? Ini semua kesalahanku. Kumohon maafkan aku….” kata-katanya terhenti ketika buku harian yang tergeletak di atas pasir itu terbuka. Membuat catatan-catatan terakhir si pemilik terbuka. Changmin yang terus menerus membaca ulang isi catatan itu masih saja menangis dan tidak bisa memaafkan dirinya.
Changmin memejamkan matanya, berharap bisa melihat sosok itu lebih jelas, tapi tidak semuanya hilang. Semua itu mungkin hanya imajinasinya. Dia begitu merindukan kekasihnya hingga berpikir melihatnya.
Changmin mengambil buku catatan itu, membuka catatan terakhir yang tertulis di sana dan hanyut dalam kelamnya malam bertabur bintang dan deru ombak.

Sudah kuputuskan aku akan pergi
Jika apa yang ada dalam mimpiku itu benar
Aku akan menjagamu
 Mungkin suatu saat nanti aku akan menyesal
Semua ini karena aku mencintaimu
Meski nanti aku tak lagi bisa bersamamu
Cinta ini akan selalu hidup dalam hidupmu



---


Tidak ada komentar:

Posting Komentar