‘Pertama kali aku
bertemu denganmu. Aku tidak mengingat apapun. Tidak teringat apakah langit
tampak cerah saat itu, atau malah matahari yang bersembunyi? Karena bagiku…
yang terlihat dan teringat jelas hanyalah dirimu’
Langit nampak begitu
mendung, seolah-olah ikut menangisi kepergian seseorang yang kini terbaring tak
bernyawa. Orang-orang berpakaian hitam itu nampak begitu berduka. Airmata
mereka tumpah begitu saja di hadapan pria yang di semayamkan di sana. Yoona
tahu semua ini hanyalah mimpi buruk yang tak terbayangkan sebelumnya. Karena
itulah dia ingin bangun, dia berusaha membangunkan dirinya meski berulang kali
dia mencoba. Sebesar apa pun usahanya, dia masih berdiri di sana menatap lurus
pada peti mati itu. Dia bisa melihatnya, sebuah figura berisikan foto sesosok
pria yang selama ini mengisi hidupnya ada di atasnya. Yoona tahu, ini tidak
mungkin terjadi, semua yang ini pastilah hanya bayangan ketakutan yang entah
sejak kapan menggelayutinya.
---
“Ada apa denganmu?” Changmin
menghampirinya yang kini pucat bersimbah keringat.
“Changmin-ah, kau tidak
apa-apa? Apa kau baik-baik saja?” ujarnya panik.
“Apa yang terjadi
padamu, aku baru saja meninggalkanmu sebentar dan kau sudah berkeringat seperti
ini. Apa yang terjadi?”
“Andwae, gwenchanayo, aku
hanya… hanya bermimpi buruk.” Yoona nampak tidak berhasil menyembunyikan
kekhawatirannya.
“Sudah, jangan takut,
aku ada di sini menemanimu.” Changmin memeluknya dan membantunya berbaring lagi
pada tempat tidurnya.
Changmin tahu sesuatu
telah terjadi dan Yoona mencoba menyembunyikannya. Tapi Changmin tak punya
alasan untuk mendesaknya menceritakan apa yang terjadi padanya, apalagi melihat
kondisi Yoona yang kini lemah. Changmin mengurungkan niatnya untuk mencari tahu
apa yang sedang terjadi pada gadisnya dalam beberapa hari terakhir ini.
---
“Andwae! Jangan…, jangan ke sini! Aku mohon tetap di sana!” teriak Yoona
dalam tidurnya. Dilihatnya sosok Shim Changmin yang berjalan menemuinya dengan
ekspresi bingung yang jelas kentara. Terdengar deru suara mobil yang mendekat
dengan kecepatan tinggi dan seketika seseorang tertabrak begitu saja membuat
semua orang berteriak terkejut.
“Andwaeyo!” teriaknya. Dia terbangun, terduduk dan terengah. Nafasnya
memburu, matanya pun berair dengan wajah nampak pucat. Jantungnya berdegub
lebih cepat membuatnya nampak begitu terengah. Masih jelas dalam ingatannya
setiap hal yang terjadi dalam mimpinya. Apa maksud dari semua
ini? Mana mungkin kecelakaan itu terjadi. Tidak ini pasti mimpi, semua ini hanya mimpi buruk! Yoona berusaha meyakinkan
diri.
---
“Katakan padaku,
sebenarnya apa yang terjadi padamu?” Shim Changmin nampak kesal.
Yoona diam saja, dia tidak
berani menatap pria yang kini jelas sekali menunggu penjelasan. Ketakutannya
memuncak setiap kali memandang kekasihnya itu, kilatan kejadian yang terjadi dalam
mimpinya membuatnya takut menghadapi kenyataan bahwa kini dia harus menjelaskan
apa yang mengahantuinya beberapa hari ini.
“Mianhaeyo, Changmin-ah, aku
hanya bermimpi buruk.” Yoona lagi-lagi mengelak.
“Mimpi buruk? Kalau
begitu ceritakan padaku agar aku bisa membantumu lepas dari mimpi burukmu. Sungguh
aku tak bisa tahan melihatmu selalu ketakutan setiap kali melihatku!” ujar
Changmin geram.
“Tidak, aku tidak bisa.
Changmin-ah, maafkan aku tapi aku benar-benar tidak bisa.”
“Baiklah kalau begitu,
jangan temui aku kalau kau masih saja tak berani menatapku!” teriaknya kesal.
---
Because I Love You
(Shim
Changmin and Im Yoona Fanfiction)
By Nurizda Oktalia
Aku merindukanmu tapi aku tidak bisa
mendekatimu
“Ini benar-benar tidak
adil bagiku!” Yoona berteriak keras pada dinding yang memantulkan suaranya.
“Bagaimana mungkin kukatakan padanya, kalau aku melihatnya terbujur kaku di
hadapanku. Bagaimana bisa aku mengatakan kalau dia akan pergi meninggalkanku
karena kecelakaan itu? Tidak akan ada yang terjadi! Pasti itu yang akan Changmin
katakan. Aku tak mau dia tahu! Aku yakin dia tidak akan percaya dengan apa yang
akan kukatakan. Semua orang pasti akan menganggapku gila jika mempercayai mimpi
itu!” Yoona nampak berang pada dirinya sendiri.
Dia melempar bantalnya
dan bantal itu menjatuhkan kalender yang diletakkan di atas meja belajarnya.
Kalender itu terjatuh, Yoona melihat sekilas pada kalender itu. Hari ini
tanggal 21 Mei, Tepat satu tahun kebersamaannya bersama Shim Changmin.
Tiba-tiba Changmin menghubunginya dan mengajaknya bertemu di suatu tempat. Yoona
nampak senang dan segera berdandan secantik mungkin. Mengenakan gaun pendek
berwarna putih dengan sepatu flat dan tas tangan di sisi tangannya.
Yoona bergegas menuju
menara tepat sepuluh menit sebelum waktu yang Shim Changmin janjikan. Dia
terlalu bersemangat melihat Changmin yang datang lebih awal dan sudah
menunggunya di seberang jalan. Yoona tersenyum dan melambaikan tangannya. Changmin
melihatnya lalu bergegas menemuinya hingga tanpa sadar dia menyebrang sebelum
waktunya. Sebuah mobil yang melaju sangat cepat menabraknya dengan kuat membuat
tubuh itu terhempas jauh. Pria itu tergeletak dan bersimbah darah. Yoona
terdiam, tanpa isakan, tanpa kata-kata. Dia seakan-akan membatu seketika pria
itu tak lagi bernyawa.
---
“Yoona, bangun!” teriak
ibunya panik.
Yoona membuka matanya,
kali ini dia tidak berkeringat tapi airmatanya tumpah begitu saja tanpa dia
sadari, nafasnya memburu begitu cepat membuat jangtungnya terasa sakit.
Wajahnya memucat dan akhirnya menyadari keberadaan ibunya yang nampak begitu
khawatir lalu memeluknya seerat yang dia bisa.
“Eomma, katakan padaku
kalau ini semua hanya mimpi!” teriaknya histeris.
“Apa maksudmu, nak?” Wanita
paruh baya itu nampak bingung.
“Shim Changmin, dimana
dia? Apa yang terjadi padanya?” tanya Yoona
panik.
“Changmin-shi? Apa kau
lupa? Dia pergi ke Seoul bersama ibunya dua hari yang lalu. bukankah kemarin kau
sudah bertemu dengannya di sana?”
Yoona nampak bingung,
dia berusaha membedakan mana mimpi dan mana kenyataan. semuanya nampak begitu
nyata. Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa dia begitu ketakutan dan membayangkan
hal yang tidak-tidak terjadi pada kekasihnya.
“Cheosonghamnida eomma, aku hanya mimpi buruk.” Yoona mencoba untuk
tenang dan membuat ibunya tidak bertanya-tanya lagi tenatng apa yang ada dalam
mimpinya.
“Kalau begitu lebih
baik kau bangun, dan mandi. Kau lihat wajahmu begitu pucat. Apa kau sakit?”
“Andwae, aku baik-baik saja.”
---
Kenyataan
aku harus meninggalkanmu
Sejak kejadian itu Shim
Changmin benar-benar tidak menghubunginya. Yoona tahu ini semua kesalahannya,
tidak seharusnya Changmin menyadari ketakutannya. Tapi bagaimana mungkin tidak?
Dia sadar betapa tidak beraninya dia menatap mata pria itu lagi sejak mimpi itu
menghantuinya.
Yoona nampak sengsara
dengan semua ini. Bagaimana pun tak seharusnya Changmin melupakannya begitu
saja. Sudah seharusnya dia menghubunginya tapi ancaman Changmin membuatnya
tidak mampu untuk bertemu dengannya.
Yoona mengambil
ponselnya, melihat pesan masuk tertera pada layar.
“Bisa kita bertemu
besok malam?” ujar Shim Changmin dalam pesan singkat yang dia kirimkan.
“Dimana?” balasnya.
“Aku akan datang ke
rumahmu, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu.”
“Baiklah, aku
menunggumu di rumah.”
---
Kau,
yang memberiku begitu banyak cinta yang hangat
“Apa ini?” Yoona nampak
takjub melihat foto-fotonya yang berbaris dalam bentuk yang indah layaknya
sebuah pohon cinta.
“Apa kau suka?” ujar Changmin
nampak lega.
“Tapi kapan kau
membuatnya?”
“Semalaman,” ujarnya
dengan senyum di wajahnya.
“Indah sekali, kau
pasti benar-benar menyukaiku,” candanya.
“Kau percaya diri
sekali.” Changmin tertawa kecil, “Mianhaeyo,
seharusnya aku tidak bersikap sekeras itu padamu.”
“Lupakan saja, aku tak mau mengingatnya lagi. Ngomong-ngomong aku harus membawa ini
masuk sebelum tetangga melihatnya.” Yoona nampak sungguh-sungguh dengan apa
yang dikatakannya. seketika ketakutannya pada mimpi itu menghilang begitu saja.
---
Mungkin
aku akan menyesal telah meninggalkanmu Tapi semua ini
karena aku mencintaimu
“Apa kau punya waktu
malam ini? Aku ingin mengajakmu pergi. Kau mau?”
“Tentu saja,”
“Kalau begitu temui aku
di depan menara pukul tujuh. Aku akan menunggumu di sana.”
Sambungan telpon itu
terputus begitu saja, entah mengapa Yoona merasa terganggu dengan kekhawatiran
yang tiba-tiba saja menggelayutinya lagi. Dia tak tahu apa yang terjadi
padanya, hanya saja dia segera bergegas mempersiakan diri untuk acara malam
ini.
---
Kegelisahan di hatinya
semakin menjadi saat Yoona melewati jalan-jalan berliku menuju menara. Dia tahu
betul kini dia sedikit terlambat tapi dia tak bisa berjalan lebih cepat lagi. Jantungnya
berdegub terlalu cepat. sampai tiba-tiba kesadarannya kembali saat seseorang
menabraknya.
“Cheosonghamnida,” ujar sosok gadis yang membawa bertumpuk koran hari
ini. Yoona membantu merapikan koran-koran yang kini berserakan dan seketika
membeku. Matanya tertuju pada tanggal penerbitan koran ini. Sesuatu
menyadarkannya membuat jangtungnya semakin berdegub kencang lagi.
“Apa ini koran hari
ini?” ujar Yoona bergetar.
“Ne agashi, ada apa?” ujar gadis itu bingung melihat ekspresi Yoona
yang nampak membatu seketika.
Yoona tak tahu apa yang
sedang dipikirkannya sekarang. Hanya saja dia menggerling pada arlojinya yang
sudah menunjukkan pukul delapan malam. Dia lagi-lagi melihat tanggal penerbitan
koran itu, keringat mulai membanjirinya. Dia berdiri melepaskan lagi
koran-koran itu dan menyadari dirinya mengenakan gaun putih malam itu. Yoona
nampak begitu panik, mengambil ponselnya dalam tas tangannya dan menekan
tombol-tombolnya.
Panggilan belum juga
tersambung, entah siapa yang ingin dia hubungi tapi Yoona benar-benar panik
sehingga membuat gadis yang menabraknya memperhatikannya.
”Apa yang terjadi?”
ujar gadis itu bingung.
Yoona diam saja, masih
mencoba menghubungi seseorang yang tidak juga mengangkat telponnya hingga bunyi
pesan yang memintanya meninggalkan pesan.
“Changmin-ah, dengarkan
aku baik-baik. Kau harus dengar! Aku akan pergi menemuimu, tidak akan lama lagi
aku akan tiba di sana. Jangan kemana-mana, aku akan menjelaskannya nanti jika kita
bertemu.” ujar Yoona nampak bergetar dalam suaranya yang tenggelam karena
kepanikan.
---
Yoona berlari
meninggalkan gadis dengan koran itu masih di sana. Dia yakin Changmin sudah mendengar
pesannya. Karena jika tidak, ketakutannya selama ini benar-benar akan terjadi.
Dia berlari secepat yang dia bisa namun langkahnya sedikit terhalangi karena sepatu
hak tinggi yang dikenakannya. Dia tak punya waktu untuk mengeluhkan rasa sakit
pada kakinya karena saat ini dia harus segera bertemu Changmin dan mengatakan
semuanya.
---
Saat
ini aku hanya memberimu luka
“Changmin-ah,” teriak Yoona melambaikan tangan
pada sosok Changmin yang berdiri di seberangnya.
Changmin tersenyum
penuh arti, dengan seikat bunga yang dibawanya dia menyebrang melewati zebra cross bersama pejalan kaki
lainnya. Yoona nampak teringat mimpinya dan berteriak seketika.
“Andwae! Tetap di sana!”
Changmin terkejut dan
beberapa pejalan kaki lainnya pun ikut menghentikan langkah mereka sehingga
membuat kemacetan yang tak terelakan. Mereka memandang galak pada Yoona yang
berwajah pucat. Changmin nampak bingung, tapi segera menghapus keterkejutannya
dengan kembali berjalan menuju Yoona yang nampak sedikit lega.
“Apa yang terjadi?”
ujarnya.
“Tidak, tidak apa-apa.”
gugupnya.
“Baiklah, lupakan hal
itu. Kau cantik sekali malam ini,” ujarnya membuat Yoona tersipu.
“Apa ini untukku?” ujar
Yoona mencoba mengalihkan kepanikannya dan menunjuk seikat bunga yang ada pada
Changmin.
“Kau tahu, kau ini
benar-benar percaya diri.” ujarnya tertawa.
“Oh, kalau itu bukan untukku,
sekarang katakana untuk gadis mana lagi?”
Changmin tersenyum
melihat Yoona yang berwajah masam. dia tahu betul kalau gadis ini benar.
“Baiklah, ini untukmu
saja. Kurasa bunga ini sudah sama sepertimu. Sama-sama cantik.”
“Gomawoyo, Changmin-ah, kau membuatku malu.”
“Kalau begitu mari kita
pergi,” ujar Changmin mengajak Yoona yang nampak begitu bahagia memegangi bunga
itu.
Mereka berjalan
menyisiri jalan setapak yang kini cukup ramai pada malam hari. Lampu-lampu
mulai menerangi malam, membuat mereka merasa nyaman dan mengisyaratkan
keromantisan yang sederhana namun syarat akan makna bagi mereka. Changmin
mengajaknya duduk di taman kota yang dipenuhi banyak pasang kekasih. mereka
nampak sama bahagianya.
“Kau tunggu di sini, akan
kubelikan es krim untukmu.”
“Jangan lama-lama ya,”
Changmin membeli dua
buah es krim coklat dan memasukkan sesuatu pada eskrim itu. Yoona sudah cukup
lama menunggunya dan mulai merasa kesal. Saat dia kembali dengan dua es krim di
tangannya membuat Yoona kembali ceria. Dia memberikan satu buah padanya dan
Yoona menikmatinya dengan tawa bahagia.
Changmin menunggu
sesuatu yang bisa membuat Yoona semakin bahagia, namun Yoona masih saja
menikmati es krimnya. Changmin nampak bingung hingga melupakan miliknya yang
sudah meleleh dan mengotori tangannya.
“Kau kenapa?” ujar
Yoona bingung.
“Ah, tidak apa-apa.”
Changmin salah tingkah. Dia sendiri bingung kenapa ini bisa terjadi. Yoona
nampak asyik memakannya dan ini membuat Changmin semakin bingung. Kekesalan
memuncak dalam dirinya namun tiba-tiba Yoona berhenti menikmati es krimnya. Dia
diam saja dan mencoba mengeluarkan sesuatu dari dalam mulutnya. Sesuatu yang
kecil dan nampak begitu berkilau diterangi cahaya.
“Apa ini?” ujarnya
bingung.
Senyum merekah pada
wajah tampan Changmin, Akhirnya hal yang dia tunggu-tunggu datang. Dia berlutut
di hadapan gadis itu. Membuat gadis itu nampak bingung. Changmin berusaha
memberanikan diri berbicara. Suaranya lembut namun mantap mengatakan kata-kata
yang membuat Yoona terpaku.
“Yoona-shi, maukah kau
menikah denganku?”
Yoona memandangi
wajahnya yang tampan, senyum merekah di wajahnya. Baru saja Yoona ingin
menerima lamaran itu tiba-tiba kilatan akan mimpi-mimpi itu muncul. Lebih jelas
bahkan sangat jelas, membuatnya berteriak histeris.
“Jangan! Tidak! Itu tidak
mungkin! Jangan dia, kumohon, Biarkan aku saja!” teriaknya pada diri sendiri. Dia
memegangi kepalanya dan berteriak makin keras. Membuat tidak sedikit orang
memperhatikan mereka. Changmin nampak bingung dan mencoba menenangkannya.
“Yoona-ah, apa yang
terjadi? Apa kau baik-baik saja?”
“Tidak! Kubilang
jangan! Biarkan aku saja!” teriak Yoona pada dirinya lagi.
Changmin berusaha terus
untuk menenangkannya namun tak berhasil. Dia memeluk gadis itu tapi Yoona masih
saja nampak begitu ketakutan. Airmatanya tumpah begitu saja. Dia tidak tahu
harus berbuat apa, seketika diciumnya gadis itu. Yoona terdiam, berhenti
berteriak. Namun airmatanya masih membanjirinya. Dia melepaskan ciumannya dan
menghapus airmata gadis itu.
“Kau kenapa?” ujaranya
pelan.
“Aku….”
“Sebenarnya apa yang
ada dalam mimpimu akhir-akhir ini? Kau benar-benar berubah sejak mimpi-mimpi
itu menghantuimu.”
“Tidak… tidak, bukan
apa-apa. Maafkan aku,”
“Katakan!” ujar
Changmin tegas, membuat Yoona menatap lurus pada mata itu.
“Aku melihatnya begitu
saja, mobil itu, mobil itu menabrakmu di sana.” Yoona nampak histeris.
“Mobil? Apa maksudmu?”
Changmin kini semakin bingung.
“Saat itu kau ingin
menemuiku, dan mobil itu melintas dengan cepat dan kau…, kau….”
“Aku meninggal begitu
saja? Itu yang kau lihat?”
“Changmin-ah, mianhae…,”
“Baiklah kalau begitu
kita buktikan. aku akan pergi ke manara itu lagi dan aku akan kembali lagi ke
sini dalam keadaan baik-baik saja. Kau akan melihatku kembali. Tunggu di sini
aku ingin semua ini berakhir! Aku tidak ingin kau mempercayai mimpi burukmu
itu!”
“Jangan… jangan,
kumohon….”
Changmin tak
mengindahkannya. Dia pergi begitu saja menuju menara tempat mereka bertemu.
Yoona mengejarnya meski tetap saja Changmin bergerak terlalu cepat. Changmin
nampak begitu kesal, dia berjalan terlalu cepat hingga sudah menyebrangi jalan
itu begitu saja dan berdiri di depan menara.
Yoona akhirnya berhasil
mengejarnya. Kesal namun rasa lega menggelayutinya. Tidak terjadi apa-apa pada
pria itu. Changmin nampak puas dengan pembuktiannya, Dia tersenyum lebar
mencoba menenangkan Yoona yang menghapus airmatanya.
“Bagaimana apa kau
senang? Kau lihat, tidak ada yang terjadi padaku. Aku baik-baik saja. Kalau
begitu bagaimana, apa kau menerima lamaranku?” teriaknya.
Yoona tertawa masih
dengan airmata yang membanjiri wajahnya, “Baiklah, aku terima.” teriaknya.
Changmin nampak begitu
senang. Dia tertawa sekuat-kuatnya membuat banyak mata bingung dibuatnya.
“Tunggu di sana aku
akan menyebrang ke sana.”
Yoona mengangguk dan
menghapus airmatanya lagi. Changmin nampak sangat antusias. sehingga tidak lagi
melihat jalan yang dia lewati. Terdengar klakson dan deru mobil yang mendekat
membuat Yoona sadar. Mobil itu melaju dengan sangat cepat, tapi dia tidak menyadarinya.
Yoona panik tanpa pikir panjang dia berlari mencoba menyelamatkan Changmin yang
kini menyadari mobil yang akan menabrak mereka berdua. Mobil itu mendekat
seketika menabrak keduanya bersamaan. Tubuh Changmin yang berhasil di dorong
juga ikut tertabrak, dan tubuh Yoona terbawa mobil itu cukup jauh. Seketika
keduanya tergeletak bersimbah darah membuat panik orang-orang yang melihat
kejadian itu.
---
Para pelayat itu
memenuhi pemakaman tempat sosok itu dimakamkan. Isak tangis mengiringi
kepergiannya yang tiba-tiba. Keluarga, sahabat, dan para tetangga mengantar
kepergiaannya dengan duka yang begitu mendalam. Membuat langit nampak begitu
mendung seolah ikut menangisi kepergian sosok itu.
“Maafkan aku, aku tidak
bisa melindungimu,” isaknya. sosok itu nampak amat terpukul dengan kepergian
yang begitu tiba-tiba. Dia masih di sana, menangisi kepergian orang yang begitu
dicintainya.
---
Karena aku mencintaimu
Hari berganti bulan,
bulan berganti tahun. Sosok itu duduk pada bibir pantai yang kini sepi, masih menikmati
indahnya bintang di bawah sinar bulan. Deru ombak membuatnya teringat pada
sosok yang kini hilang dari dirinya. Dia memejamkan mata seolah mengharapkan
sesuatu dan ketika membuka mata dia melihat sosok itu. Melihat sosok yang
begitu dia rindukan, sosok yang membuatnya terpuruk selama tahun ini. Ketika
membuka mata, dia menangkap sebuah bayangan seseorang yang amat dia rindukan.
“Kau…, apa kabarmu?
Ternyata kau masih tetap sama. Matamu, hidungmu, wajahmu, tidak ada yang
berubah,” isaknya. “Apa kau baik-baik saja? Apakah kau bahagia di sana?”
Changmin menitikan airmata melihat sosok Yoona yang muncul di hadapannya.
Gadis itu tersenyum
membuatnya merasa semakin merindukan sosoknya yang kini hilang dari dirinya.
“Benarkah? Kau
baik-baik saja di sana? Aku benar-benar merindukanmu…, sungguh,” isaknya. “Apa
kau bisa memaafkanku? Ini semua kesalahanku. Kumohon maafkan aku….” kata-katanya
terhenti ketika buku harian yang tergeletak di atas pasir itu terbuka. Membuat
catatan-catatan terakhir si pemilik terbuka. Changmin yang terus menerus
membaca ulang isi catatan itu masih saja menangis dan tidak bisa memaafkan
dirinya.
Changmin memejamkan
matanya, berharap bisa melihat sosok itu lebih jelas, tapi tidak semuanya
hilang. Semua itu mungkin hanya imajinasinya. Dia begitu merindukan kekasihnya
hingga berpikir melihatnya.
Changmin mengambil buku
catatan itu, membuka catatan terakhir yang tertulis di sana dan hanyut dalam
kelamnya malam bertabur bintang dan deru ombak.
Sudah
kuputuskan aku akan pergi
Jika apa yang ada dalam mimpiku itu benar
Aku akan menjagamu
Mungkin suatu saat nanti aku akan menyesal
Semua ini karena aku mencintaimu
Meski
nanti aku tak lagi bisa bersamamu
Cinta
ini akan selalu hidup dalam hidupmu
---
Tidak ada komentar:
Posting Komentar