SNSD

SNSD

Minggu, 21 Juni 2015

catch me

<iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="315" src="//www.youtube.com/embed/L66qOE6OGOk?rel=0&amp;autoplay=1" width="560">


Kamis, 23 Oktober 2014

EVEN IF YOU LEAVE ME

EVEN IF YOU LEAVE ME
Author : Nurizda Oktalia
Casted by : Ok Taec Yeon, Meng Jia, and Hwang Chan Sung

‘Even if you leave me, if I can watch over you, I’m happy, that’s enough. And now, forgive me, I’m sorry I can’t be at your side’

POV JIA
---
“Hei!” teriakku pada pria yang menabrakku dan menjatuhkan kopi yang baru saja kubeli dari mesin kopi di sudut jalan. Kumaki orang yang menabrakku dengan keras tapi pria itu berlari begitu saja. Pria itu dikejar-kejar beberapa paparazzi  yang memakai kaca mata, bertubuh besar, dan membawa kamera. Ada pula gadis berpakaian sangat tebal dengan handycam di tangannya. Sebenarnya siapa mereka? Dan apa yang mereka lakukan di sini!
Aku berusaha melupakan kejadian yang baru saja aku alami, kembali lagi pada mesin kopi dan membeli kopi hangat untukku. Saat aku mengambil jalan berlawanan dari biasanya lagi-lagi seseorang menabrakku dan membuat kopi itu membasahi mantelku dan jaketnya.
“Apa kau sudah gila!” Aku memukulnya dengan keras sambil berteriak memakinya, dia terlihat geram dan menarikku berlari bersamanya. Aku berontak dan mencoba membebaskan diri meskipun percuma. Tapi, dia memegangku terlalu kuat hingga rasa nyeri menyerang pergelangan tanganku.
“Lepaskan!” teriakku lebih kertas. Dia tetap berlari membuatku berusaha lebih kuat untuk menyeimbangkan langkahku dengannya. Dia sudah gila! Tanpa memperdulikan mata-mata yang melihat ke arahku dia membawaku menuju mobil mewah berwarna putih yang terparkir di depan sebuah kedai minum. Dia melepaskanku dan seketika itu juga aku menamparnya.
“Kau ini kenapa!”
Pria itu tak menjawab. Dia membukakan pintu mobilnya dan memaksaku masuk. Aku bingung dan entah mengapa aku mengikuti instruksinya. Dia membanting pintu dengan cepat setelah aku masuk dan dia segera menyusul. Tanpa buang waktu dia menjejakkan mobil itu dengan cepat meninggalkan orang-orang aneh yang ternyata masih mengejarnya.
Aku diam, memandang tak percaya pada pria gila yang mengemudikan mobilnya dengan sangat cepat. Aku tidak berani berbicara, hanya saja rasa penasaran membuatku tak henti-henti meliriknya. Dia tampan, wajahnya terlihat gagah dengan tubuh atletis yang juga dimilikinya. Dia berpakaian sangat menarik dengan kaos putih dan jaket kulit berwarna hitam, serta kaca mata hitam yang menutupi wajahnya sehingga untuk beberapa saat aku tidak bisa mengenalinya.
Tiba-tiba dia menghentikan mobilnya. Aku pun sadar dari ketertegunanku dan seketika saja kulemparkan tasku yang mendarat di wajahnya. Membuat kacamata hitam itu terlepas dan menunjukkan sosok pria itu.
“Maaf.”
“Kau?” ujarku tak percaya. Pria itu membetulkan posisi kacamatanya dan mengahadapkan tubuhnya padaku.
“Maaf atas kopimu, aku berhutang dua padamu.”
“Apa?” ujarku linglung. Aku masih tidak percaya, dia Taecyeon dari 2pm. Idola para gadis ini bersamaku dan membuatku kesal setengah mati padanya. Aku berusaha menyadarkan diriku saat dia nampak tidak nyaman dengan keterkejutanku.
“Akan ku ganti kopimu,” dia menatapku yang nampak pucat, “dan juga mantelmu, tentu saja,” ujarnya ketika menyadari noda kopi yang membasahi mantelku. Aku baru sadar ketika melihat noda kopi yang juga mengotori kaos nya.
“Lupakan saja, sebenarnya apa yang terjadi?” Kebingunganku jelas terpeta ketika kulihat senyum mereka di wajahnya.
Paparazzi, seperti biasa,” ujarnya nampak kesal, “aku yakin, foto-foto kita akan masuk surat kabar dan tersebar sebentar lagi. Untung saja kau memakai itu.” Taecyeon menunjuk mantelku yang berkerah cukup tinggi sehingga sedikit menutupi wajahku.
“Lalu, kenapa kau lari?”
“Mereka selalu mengerecokiku dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuatku muak!”
“Kalau begitu, kenapa kau membawaku? Maksudku, dengan kau bersamaku akan semakin menyulitkanmu. Kenapa kau  malah menarikku dalam masalahmu?” gerutuku.
“Aku…, aku tak tahu kenapa. Tapi begitu menabrakmu lagi, aku benar-benar merasa berhutang padamu.” Taecyeon mengalihkan pandangannya dariku dan melihat ke arah berlawanan.
“Aku harus pulang.” Kata-kataku membuatnya kembali mengalihkan perhatiannya padaku.
“Tidak bisa. Aku harus pergi, aku tak bisa mengantarmu kembali kesana.”
“Aku bisa sendiri!” ujarku kesal menyandangkan tasku dan keluar dari mobil itu. Taecyeon tidak mengejarku dan itu benar-benar membuatku marah. Aku tahu, dia takut kalau ada yang melihatnya bersama gadis sepertiku. Tapi, ini salahnya! Dia yang menyeretku dalam masalahnya.
***
Musim dingin mulai meninggalkan kota, kulihat salju yang menutupi jalan setapak menuju pantai perlahan mulai mencair. Aku tidak lagi memakai mantel dan syal untuk menghangatkan tubuhku, karena hawa musim semi sudah terasa. Matahari bersinar malu-malu pada dunia. Membuat secercah cahaya menembus awan-awan dan menerangi pantai yang kini mulai ramai dikunjungi. Pagi ini dengan segelas kopi hangat, aku duduk di hamparan pasir yang memberikan kehangatan padaku saat angin laut berhembus.
Pagi ini, aku merasa angin bertiup dengan senangnya. Menyapu wajahku dan membuat rambutku berterbangan. Sesekali rambutku menampar lembut wajahku. Mataku terpejam, berusaha menikmati suasana. Meski sedikit mengantuk rasanya aku tidak mau kehilangan cerahnya matahari pagi ini. Mata bulatku terbuka saat ku dengar seseorang mendekat. Aku cukup terusik dengan gangguan ini sampai-sampai aku enggan melihat siapa yang menggangguku pagi-pagi begini.
“Akhirnya aku menemukanmu,” ujar seseorang yang sudah kukenali suaranya. Aku tidak mau repot-repot berdiri menghadapi Taecyeon yang mengajakku bicara. Aku masih memunggunginya dan mencoba kembali menikmati hangatnya matahari di pantai ini.
“Kau mencariku? Untuk apa?”
“Aku berhutang padamu.”
“Jangan gila, kau sama sekali tidak berhutang apa-apa padaku. Kecuali yang kau maksud merusak akhir pekanku waktu itu.”
“Aku sudah bilang, aku berhutang dua gelas kopi padamu.” Kata-katanya kali ini membuat wajahku mengguratkan senyum kecil. Meskipun begitu, bukan berarti aku senang mengingat hal konyol itu.
“Lupakan saja,” aku berdiri dan beranjak dari posisi dudukku, “aku tak ingin mengingat kejadian itu lagi.”
“Apa kau memang suka dibawa lari seperti waktu itu?”
Melihat kebingungan terpeta di wajahku dia tertawa dan menarik tanganku. Aku terkejut dan kini dia sudah begitu dekat denganku. Kali ini dia  tidak hanya menggunakan kacamata hitam untuk menyamar, dia juga memakai topi yang cukup sempurna untuk membuat penyamarannya berhasil. Meskipun sebenarnya dia tidak bisa menutupi tubuhnya yang atletis dan menarik perhatian orang-orang yang tak jauh dari kami.
“Ikut aku.” Dia pun membawaku lari seperti waktu itu.
***
Plak! Aku mendaratkan tamparanku di wajahnya. Taecyeon terkejut dan tersenyum sambil memegangi pipinya yang memerah. Aku marah, kenapa dia memperlakukanku seenaknya!
“Aku hanya ingin membayar hutangku.”
“Sudah kukatakan, lupakan saja!” teriakku padanya. Tidak sedikit orang-orang yang berada di sekitar memperhatikan kami sekarang. Taecyeon nampak terganggu, begitu pun denganku. Tapi aku masih saja berteriak padanya. “Kau tahu, kau membuatku seperti orang bodoh dengan menarikku dan membawaku kemana pun kau mau! Apa kau pikir aku suka?”
Taecyeon nampak geram dengan semua yang kukatakan padanya. Aku masih terus memakinya hingga dia kehilangan kesabarannya dan melakukan sesuatu yang membuatku terdiam. Dia menciumku….
Apa yang …, apa yang dia lakukan? Disini di depan semua orang yang sekarang benar-benar memperhatikan kami. Aku terpaku, tak bisa bereaksi meski rasanya ingin sekali aku menamparnya lagi. Tapi tidak bisa, tanganku seakan mati rasa seketika.
Orang-orang mulai tertawa dan meneriaki kami dengan senang. Wajahku memerah saat dia menjauhkan diri dariku. Aku tak berani menatapnya dan juga melihat ke sekelilingku. Taecyeon segera sadar dengan apa yang baru saja dilakukannya. Dia memegang tanganku dan membawaku menjauh dari keramaian menuju mobilnya dan menghilang dari penglihatan orang-orang yang menyaksikan hal memalukan itu.
***
“Kau senang?” ujarku geram.
“Tentu saja,” dia tertawa melihat kemarahanku, “sudah kukatakan aku hanya mau membayar hutangku. Apa susahnya? Kejadian tadi tidak perlu terjadi kalau kau mau mendengarkanku.”
“Baiklah, lakukan apa yang kau mau kalau begitu,” ujarku kesal.
Taecyeon mengajakku turun dari mobilnya. Meninggalkan mobil itu terkunci di sana, dan beranjak menuju tempat waktu itu dia menabrakku. Dia membelikanku kopi dan mengajakku duduk di taman. Tidak banyak orang yang berada di sini, dan itu membuat kami merasa lebih nyaman.
Hening, aku tak mau memulai pembicaraan apapun padanya. Aku meminum kopi itu dengan cepat agar bisa cepat berpisah darinya. Tapi sepertinya dia bisa membaca pikiranku. Dia tertawa dan tawanya terdengar sangat senang. Entah kenapa, kali ini aku melihatnya seperti tanpa beban. Dia jauh berbeda dengan pria yang waktu itu menabrakku.
“Baiklah, sekarang kau sudah membayar hutangmu padaku. Aku harus pergi sekarang, sebelum orang-orang aneh itu kembali mengejarmu dan lagi-lagi kau membawaku pada masalahmu.”
“Kau pikir setelah membuatku mencarimu berhari-hari kau bisa pergi begitu saja?” Nampak kekesalan tersirat dari nada bicaranya, dan itu bukan urusanku. Salahnya sendiri mencariku tanpa tahu siapa aku.
“Aku tidak pernah memintamu untuk mencariku. Aku tidak tahu, kau bodoh, gila, atau apa. Tapi, bagaimana bisa kau mau mencariku dari ribuan gadis di kota ini. Busan tempat yang luas, untuk apa kau mencariku hanya sekedar untuk mengganti kopi itu,” geramku, “jadi tolong jangan membuatku tertawa dengan kelakukanmu sendiri. Sekarang aku tidak punya waktu. Selamat tinggal, kuharap kita tidak akan bertemu lagi dan kau tidak menggerecokiku lagi.”
“Temani aku.” Kata-katanya membuatku menghentikan langkahku.
“Aku tidak punya waktu.”
“Tapi aku masih berhutang segelas kopi lagi padamu,” ujarnya. Dia tersenyum lebar dan menunjukkan gelas kosong padaku.
“Sudah aku anggap lunas.”
“Tidak bisa, aku sudah bilang waktu itu. Aku berhutang dua gelas kopi padamu.”
“Baiklah, kita beli satu lagi dan aku bisa pergi.”
“Kau ini, mana bisa kau minum dua gelas kopi begitu saja.”
“Maksudmu?”
“Kita jalan-jalan dulu setelah itu aku akan membelikanmu segelas lagi.”
“Sudah kubilang aku tak punya waktu.”
“Kalau begitu, besok aku akan menemuimu lagi dan mengajakmu pergi untuk membayar hutangku.”
“Kau mau menemuiku lagi? Bukankah sudah kukatakan aku tidak mau lagi bertemu denganmu!”
“Salahmu sendiri tidak mau pergi bersamaku hari ini.”
“Hentikan! Aku tidak mau berurusan denganmu! Lagipula, untuk apa kau merasa berhutang padaku? Itu hanya kopi! Kau dengar! Itu hanya kopi biasa, untuk apa pria sibuk sepertimu mengabiskan waktu sia-sia hanya untuk mengurusi hal sepele seperti ini!” teriakku geram.
            Taecyeon diam, dia sendiri terlihat bingung dengan apa yang telah dilakukannya. Hal itu membuatku semakin geram dengannya. Kenapa idola seperti dia terus saja menggerecokiku!
            “Aku tidak tahu, hanya saja aku…,” dia terdiam, nampak bingung saat aku mendelik meminta penjelasannya, “sudahlah, kenapa kau malah menghujaniku dengan pertanyaan itu! Aku hanya bermaksud baik. Aku bertanggung jawab atas kesalahanku waktu itu. Lagipula, apa salahnya? Maksudku, kau beruntung aku mau bertanggung jawab.”
            “Beruntung? Kau memang sudah gila,” ujarku tertawa mencibirnya, “yang ada ini musibah untukku. Gara-gara kau, orang-orang melihatku dan aku tidak suka! Aku bukan sepertimu yang menikmati menjadi pusat perhatian orang banyak!”
            “Baik, ini salahku. Maaf, dan tolonglah, apa susahnya menemaniku sebentar saja? Anggap saja kau menjadi pemandu wisata untukku?”
            Apa maksudnya? Sejak kapan aku berprofesi menjadi pemandu wisata? Apalagi untuk orang macam dia! Aku berusaha menenangkan diri, mencerna apa yang dikatakannya, meski sulit bagiku untuk menerima alasan-alasanya. Tapi, sudahlah, aku tak mau ini menjadi lebih buruk.
“Baik, kau menang,” ujarku geram, “kau mau kemana?” Aku tak bisa membayangkan jika harus terus meladeninya. Agar semua ini selesai sampai di sini, mau tidak mau aku harus mengikuti kemauannya.
Dia menyunggingkan senyum kemenangan padaku dan aku mencibirnya. Dia berjalan lebih dulu dan aku mengikutinya dari belakang. Sedikit memberi jarak antara aku dan dia agar tidak menarik perhatian. Lagipula, aku tidak mau berurusan dengan paparazzi lagi, jika penyamarannya terbongkar.
Taecyeon nampak sangat senang menikmati udara musim semi. Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam jaket kulit berwarna coklat muda. Kuperhatikan dia, dia nampak berbeda dengan pria biasa lainnya. Dengan sneaker hitam, jeans hitam, jaket kulit, kaos hitam, dan topi coklat serta kaca mata hitamnya membuatnya nampak tampan. Tak heran jika beberapa gadis muda yang kami lewati menoleh melihatnya. Dia tersenyum santai pada semua orang, dan nampak sangat percaya diri dengan penyamarannya. Entah kenapa aku merasa penyamarannya ini tidak begitu berguna. Karena dia masih saja menarik perhatian banyak orang.
“Ayo cepat.” Dia meraih tanganku dan berjalan lebih cepat. Aku diam saja, tidak nampak senang tidak juga bersikap tidak menyenangkan. Aku hanya berharap ini cepat selesai agar aku benar-benar bisa kembali ke duniaku tanpa gangguan.
Taecyeon menghentikan langkahnya tiba-tiba, membuatku sedikit menambraknya. Dia tertawa dan sangat bersemangat menunjuk sebuah tempat yang dipadati pengunjung, dan aku baru sadar kalau kami kembali ke Pantai Haeundae. Di pintu gerbang pantai tepatnya di Aquarium Busan nampak padat dikunjungi wisatawan asing. Aku tak menyangka, dia membawaku ke sini. Apa yang ingin dilihatnya? Ikan? Makhluk-makhluk air? Dia benar-benar diluar dugaan.
Dia bersemangat sekali, membeli tiket masuk untuk kami berdua dan memaksaku masuk bersamanya. Kami masuk melalui pintu depan berjalan menuju aquarium raksasa. Taecyeon nampak terpanah melihat ikan-ikan kecil berwarna-warni di sini. Kami berjalan terus menikmati pemandangan air yang dipenuhi makhluk-makhluk menakjubkan yang indah. ada l;ebih dari 300 spesies ikan dengan berbagai ukuran dan makhluk-makhluk air lainnya seperti kuda laut, ubur-ubur, anjing laut dan lain-lain. Ada ikan yang terlihat seperti bunglon. Taecyeon sangat tertarik padanya sampai-sampai meninggalkanku sendirian dan berlari mencoba melihat ikan itu lebih dekat. Aku menahan tawa melihatnya. Tapi jujur saja, aku mulai menikmati liburan yang tiba-tiba ini
“Hei, kau, cepat ke sini!” ujarnya memintaku menghampirinya. Aku bisa melihat guratan antusiasme di wajahnya yang tampan, “bisa tolong foto aku?” Taecyeon merogoh sakunya dan mengambil ponselnya. Dia memberikan padaku dan memintaku mengambil foto untuknya. Dia tersenyum dan aku memotretnya beberapa kali dengan berbagai pose. Lalu, kukembalikan ponselnya. Aku meninggalkan dia yang masih terpikat pada ikan-ikan kecil lainnya menuju aquarium tempat ubur-ubur berada. 
Beberapa ubur-ubur melayang di hadapanku, terlihat cantik membuatku benar-benar terpana. Tubuhnya yang tembus pandang, ada pula yang memancarkan cahaya dari tubuhnya. Indah sekali membuatku melupakan semua kekesalanku pada Taecyeon yang memaksaku pergi bersamanya.
“Kau suka itu?” ujarnya mengejutkanku. Aku tersenyum untuk pertama kalinya padanya dan dia nampak tertarik pada ubur-ubur itu.
“Mereka cantik yah.”
“Kau benar, lihat! Ada yang bercahaya.”
“Itu ubur-ubur polip, mereka yang paling cantik bagiku.”
Tiba-tiba dia menarikku dan membuatku bersebelahan dengannya. Dia mengalungkan satu lengannya di pundakku.
“Apa yang kau….”
“Kita berfoto untuk kenang-kenangan,” ujarnya. Aku tersenyum menandakan bahwa aku tidak keberatan dengan idenya. Ternyata selain gila, Taecyeon juga narsis seperti pria lainnya. aku geli sendiri membayangkan seorang idola bersikap seperti ini.
 Taecyeon mengambil ponselnya dan menyuruhku untuk tersenyum saat dia mengambil gambar kami berdua dengan kamera depan dari ponselnya. Karena Taecyeon yang terlalu antusias mengambil beberapa gambar tanpa sengaja topinya terlepas, dan membuat orang-orang melihat ke arah kami berdua. Sepertinya mereka mulai sadar siapa pria berkacamata dan bertopi ini. Taecyeon tidak sempat mengambil topinya lagi saat seorang gadis gemuk berkacamata berteriak memanggil namanya.
“Itu Taecyeon oppa!” teriaknya. Semua mata para gadis beralih padanya dan dengan sigap Taecyeon menarikku keluar dari kerumunan para gadis yang mengambil ponsel mereka untuk mengambil gambar kami berdua.
Kami berlari secepat yang kami bisa, diikuti gadis-gadis yang berteriak-teriak memanggil namanya. Dia panik dan membawaku lari secepat mungkin meninggalkan tempat itu menuju pantai. Aku dan dia sama-sama bingung mau bersembunyi dimana sampai Taecyeon memilih membawaku berlari menuju mobilnya.
***
“Tadi benar-benar menyenangkan,” ujarnya tertawa.
“Kau benar-benar aneh,” aku pun tertawa. Aku senang, entah mengapa aku merasa ini menyenangkan.
“Terimakasih kau mau menemaniku hari ini.”
“Tak masalah, ini pengalaman unik untukku.”
“Jadi, kau sudah memaafkanku?”
“Bukankah sudah kukatakan, aku sudah melupakannya. Tapi kau yang selalu ngotot dan membuatku kesal.”
“Baguslah, aku senang. Sekali lagi maafkan aku atas kejadian waktu itu. Tapi, sepertinya aku harus lebih berterimakasih pada mereka yang mengejarku waktu itu.”
“Maksudmu?”
“Ah …, tidak, lupakan saja. Bukan apa-apa.” Taecyeon tersenyum lalu mengalihkan pandangannya dariku.
Hening sesaat, aku mencoba mencerna apa yang baru saja dikatakannya, namun Taecyeon tiba-tiba mengejutkanku. Wajahku memerah, entah karena merasa panas karena berlari atau karena hal lain, Taecyeon sama canggungnya denganku, membuatku bingung harus bersikap apa.
“Terimakasih,” ujarku tiba-tiba membuatnya tersenyum. Aku bingung kenapa aku mengucapkan terimakasih padanya?
“Sudah waktunya aku kembali ke lokasi, para kru menungguku sore ini,” ujarnya ketika melihat arlojinya, “aku akan menemuimu lagi jika aku kembali ke sini. Dan kau harus menemaniku lagi.”
 Aku tersenyum, “aku turun dulu, terima kasih atas kopinya.”
“Aku masih punya hutang segelas kopi lagi padamu. Aku akan mengundangmu ke Seoul untuk membayar hutangku, dan kau harus datang. “
“Lagi-lagi kau memikirkan itu. Sudahlah, jangan dipikirkan. Lagipula, kau sudah mengantinya tadi.”
“Baru satu gelas, bukan? Itu artinya aku masih berhutang satu padamu,” ujarnya tersenyum.
Aku tertawa, aku menyerah. Kalau dia bersikeras silahkan saja. Lagipula, mana mungkin dia benar-benar memintaku datang. Aku membuka pintu mobilnya, dan saat akan beranjak pergi dia memanggilku lagi.
 “Tunggu dulu,” ujar Taecyeon menahanku saat aku akan keluar dari mobilnya, “siapa namamu?”
Dia lagi-lagi membuatku tersipu, aku tersenyum padanya. Rasanya bagaimana mungkin setelah semua hal terjadi dia bahkan belum mengetahui namaku. “Namaku Meng Jia, kau bisa memanggilku Jia.”
“Jia, terimakasih untuk hari ini.” Kata-katanya terdengar tulus.
“Sama-sama, kalau begitu selamat tinggal.” Aku menutup pintu mobilnya dan dia beranjak pergi.
***
Keesokan harinya kabar Taecyeon yang berkencan dengan seorang gadis tersebar di media masa, di internet, dan stasiun tv. Untung saja tidak ada seorangpun yang berhasil menangkap foto kami dengan jelas. Jadi identitasku tidak terbongkar. Aku tidak akan tahan jika orang-orang itu tahu kalau aku lah gadis itu.
Beberapa hari berlalu dengan berita yang kini sudah sedikit terlupakan dengan fakta bahwa 2pm mengeluarkan album baru mereka. Sepertinya semua orang sudah melupakan kejadian itu. Kini semua terfokus akan topik album baru mereka. Sejak saat itu aku dan Taecyeon tidak pernah bertemu lagi. Sesuai keinginanku dulu, tapi entah mengapa, kini aku merindukannya. Sesekali aku sadar bahwa aku mungkin sudah gila, karena berharap dia akan datang dan memintaku menemuinya seperti yang pernah dia katakan. Tapi aku harus mengubur keinginan itu dalam-dalam agar aku tidak kecewa. Aku sudah mantap melupakannya sampai tiba-tiba ponselku bergetar, kulihat sebuah pesan masuk. Kubuka pesan itu dan aku tak menyangka Taecyeon mengirimkan pesan singkat padaku.
Temui aku di Cheonggyecheon Stream besok jam tujuh malam.
Taecyeon
Aku terkejut melihat isi pesan itu. Dia memintaku menemuinya di sana. Aku harus menjawab apa? Aku harus pergi atau tidak? Dia memintaku ke Seoul, seperti janjinya dan aku sudah berjanji akan menerima undangannya. Aku mengigit bibir sebelum membalas pesannya, menimbang-nimbang aku harus datang atau tidak. Aku menutup mataku dan mengambil sebuah keputusan.
Baiklah, besok jam tujuh malam.
Kukirimkan pesan singkat itu padanya dan keanehan menjalariku. Entah perasaan apa ini tapi aku benar-benar bersemangat menanti hari esok dimana aku dan dia akan bertemu.
***
Pagi ini matahari musim semi memanjakan orang-orang yang bermain di pantai. Membuat perasaan hangat menjalari setiap orang yang menghabiskan paginya di sana. Aku duduk di ambang jendela sambil membuat catatan kecil dalam ponselku. Aku tersenyum setelah menyelesaikan catatanku. Aku melirik jam dinding yang kini menunjukkan pukul delapan pagi. Aku harus bersiap pikirku. Aku mengambil gaun putih dan segera berganti pakain. Kukenakan gaun itu, nampak indah. Gaun putih sederhana berbahan satin sudah menutupi tubuhku, dan rambutku sudah tertata rapi. Aku memakai arlojiku dan memandangi wajahku di cermin. Dandananku tidak begitu mencolok, aku tidak ingin Taecyeon berpikir kalau aku sengaja berdandan untuknya. Aku tidak ingin menganggap ini sebuah kencan, dia jelas-jelas mengundangku hanya untuk membalas hutangnya. Aku tidak ingin nampak bodoh di hadapannya. Gaun tak berlengan ini sedikit berlebihan, pikirku. Aku mengambil sweater berwarna peach dan mengenakannya agar gaun ini terlihat lebih santai. Yah, terlihat lebih baik. Aku menarik tas kecilku, memakai flatshoes-ku, lalu berangkat meninggalkan rumah.
Sepanjang perjalanan aku merasa gelisah, entah kenapa aku merasa sesuatu menganjal dalam hatiku. Aku tiba-tiba menyangsikan apa yang sedang aku lakukan. Aku tidak yakin kalau menemuinya adalah hal yang tepat untuk kulakukan saat ini, apalagi setelah isu yang menimpanya waktu itu. Apa kali ini dia akan lebih berhati-hati, sehingga tidak menimbulkan gossip lagi?
Ini Seoul, dimana dindingpun bisa mendengar dan melihat apa saja yang dilakukan oleh bintang idola. Paparazzi akan berada dimana-mana tanpa kita sadari. Apa ini hal yang tepat untuk dilakukan setelah mempertimbangkan semua situasi ini? Apa dia sudah memikirkan segala resiko ini?
Aku masih tidak bisa tenang, rasa senang bercampur keraguan menggelayutiku. Aku tak bisa menikmati perjalanan yang memakan waktu berjam-jam dari Busan menuju Seoul hingga tanpa terasa sudah pukul enam sore. Aku sudah tiba di Seoul dan masih dalam perjalanan menuju Cheonggyecheon Stream.
Setibanya di sana, matahari sudah tenggelam dan malam pun menggantikan siang. Lampu-lampu kota menyala menerangi jalan raya. Aku berdiri menunggunya. Banyak pasangan di sini, dan ini membuatku terlihat bodoh. Semua berpasangan dan aku sendirian menunggu seseorang yang belum juga tiba. Pukul delapan Taecyeon tidak juga menunjukkan tanda-tanda kehadirannya. Perasaanku semakin gundah seiring gemercik air yang mengalir di hadapanku dan menuju sungai Han. Aku memperhatikan air yang mengalir itu dan terus memegangi ponselku, berharap dia menghubungiku dan mengatakan bahwa dia sedang terjebak macet atau apa pun yang membuatku yakin kalau dia akan datang. Karena kalau sampai dia tidak datang, aku benar-benar sudah menjadi gadis bodoh.
Jangan-jangan dia lupa? Tapi bagaimana mungkin? Dia yang memintaku untuk datang! Atau mungkin dia mempermainkanku! Bodohnya aku! Bagaimana bisa aku percaya begitu saja pada pesan itu! Lagipula apa yang aku harapkan? Dia datang menepati janjinya? Tidak, tentu saja tidak.
Airmataku mengalir, entah aku merasa seperti gadis bodoh saat ini. Sendirian berdiri dalam kerumunan pasangan yang bersenang-senang. Apa yang aku pikirkan? Pikiranku sudah benar-benar kacau. Aku merasa bodoh, merasa tertipu, dan mertasa dipermainkan. Bagaimana bisa aku melakukan kekonyolan ini.
Pukul sembilan malam. Aku tidak mungkin menunggunya lagi, dan aku tidak mungkin menghubunginya. Apa yang akan dia pikirkan tentangku jika aku menghubunginya sekarang. Sudah cukup! Jangan sampai dia tahu kalau aku menunggunya di sini. Lebih baik aku bersikap seolah-olah tidak pernah datang ke tempat ini.
Aku beranjak pergi meninggalkan Cheonggyecheon Stream yang semakin ramai dipenuhi pasangan kekasih yang menghabiskan malam bersama. Aku baru menyadari ini, tempat ini memang tempat romantis yang biasa dikunjungi para pasangan. Lalu kenapa dia mengajakku ke tempat ini?
Sesuatu seperti hantaman keras menyadarkanku. Tidak, ini pasti suatu kesalahan. Mana mungkin dia mengajakku ke tempat ini. Ini pasti kesalahan, yah, pasti kesalahan! Sedikit tidak percaya dengan kebodohan yang kulakukan. Sebenarnya apa yang kuharapkan? Apa semua ini ada artinya? Dia sama sekali tidak memiliki perasaan apa-apa padaku! Perasaan? Astaga, apa yang kupikirkan? Mana mungkin aku berpikir kalau Taecyeon memiliki perasaan padaku, kejadian itu hanya sesuatu yang tidak disengaja. Yah, lebih tepatnya dia seperti sedang mempermainkanku! Aku bergulat dengan pikiranku sambil terus menyeka airmataku hingga tanpa sadar aku sudah pergi cukup jauh dari sana. Aku masih begitu menyesal, kenapa aku menjadi gadis bodoh yang mudah dipermainkan! Kekalutanku membuatku tak memperhatikan sekelilingku hingga akhirnya aku tersadar saat bunyi klakson mobil memecah kebingunganku. Seketika itu juga kulihat cahaya lampu mobil yang meyiramiku dan BRUK!
***
Tubuhku seakan remuk, semuanya terasa sakit dan tak bisa digerakan. Dengan perlahan kubuka mataku semua nampak samar, aku tak bisa melihat sekelilingku dengan jelas. Kepalaku terasa sangat sakit sampai aku berteriak. Berteriak? Yah aku berteriak, tapi dimana suaraku? Aku sudah berteriak sekeras ini tapi tak ada suara teriakanku! Hanya suara parau yang keluar dari tenggorokanku.
Apa yang terjadi? Dimana ini? Kenapa aku bisa ada disini? Semua pertanyaan itu membuat kepalaku semakin sakit. Aku berteriak semampuku tapi tetap saja tak terdengar oleh siapa pun. Sampai aku terjatuh dari tempat tidur ini, membuat sebuah gelas terjatuh dan menjatuhkan tiang infus membuat suara yang berkelontang sangat besar. Tidak lama seorang Suster masuk dan membantuku yang sudah terjatuh tepat di samping pecahan beling yang menusuk kakiku. Aku menangis sejadi-jadinya. Bingung dengan semua yang terjadi padaku.
“Nona, apa yang kau lakukan?” ujar suster itu panik.
Dia berusaha membantuku berdiri tapi aku menolak dan mendorongnya menjauh. Suster itu terus memaksa untuk membantuku. Aku berteriak memarahinya dan memintanya untuk pergi tapi tak ada suara, hanya geraman yang membuat suster itu bingung dengan apa yang sebenarnya aku katakan. Aku benar-benar kacau. Menjerit menangis sejadi-jadinya sampai suster itu menekan bel darurat di meja yang ada di hadapanku. Aku mendengar derap kaki mendekat dan benar saja dua suster bersama seorang dokter muncul dan berusaha menenangkanku yang mengamuk. Aku melemparkan semua yang ada di meja itu. vas, kalender dan buah-buahan yang entah dari siapa ke segala arah, membuat mereka kesulitan mendekatiku. Aku tidak tahu apa yang kulakukan hanya saja membuat semakin banyak keributan membuatku merasa ingin berteriak sekeras-kerasnya agar aku bisa mendengar suaraku. Tapi sia-sia saja, tak ada suara teriakanku sekeras apapun aku berteriak. Salah satu suster menyiapkan suntikan penenang untukku, aku berusaha menepisnya tapi tak bisa, tubuhku lemas dan rasa sakit di sekujur tubuhku membuat pertahananku goyah saat tiga suster itu berpegangan menahanku dan dokter berhasil menyuntikku dengan suntikan penenang. Aku tidak bisa bergerak, semakin lemah hingga akhirnya aku kehilangan kesadaranku sepenuhnya.
***
Aku terbangun dan melihat kesekelilingku, ternyata itu bukan mimpi. Aku benar-benar berada di rumah sakit. Aku berusaha mengingat kejadian terakhir yang aku alami sebelum aku tak sadarkan diri, meski tidak begitu teringat sepenuhnya. Yang kuingat hanya siraman cahaya lampu mobil yang mendekat ke arahku dan tiba-tiba aku sudah berada disini. Mungkinkah seseorang yang menabrakku yang membawaku ke rumah sakit ini?
“Kau sudah sadar?” ujar seorang pria mengejutkanku.
Mataku terbelalak menatapnya. Kenapa dia ada disini? Aku ketakutan, dan itu terpancar jelas di wajahku. Aku ingin berteriak tapi dia mencoba menenangkanku.
“Tenang, jangan takut. Apa ada yang sakit? Akan ku panggilkan dokter.”
Aku menggelengkan kepalaku. Dia nampak bingung dengan apa yang ingin kukatan, wajahku menyiratkan kemarahan, ketakutan, dan kepanikan secara bersamaan.
“Aku dengar kau tidak bisa bicara. Ini semua salahku, seandainya aku tidak banyak minum malam itu, andai saja aku melihatmu menyebrang. Tapi sebenarnya apa yang kau lakukan malam itu? Maksudku, kau berjalan seperti orang yang kebingungan sampai tidak melihat kalau kau tidak boleh menyebrang.” Pria yang kukenali ini nampak bingung dan khawatir melihat kondisiku. Airmataku jatuh lagi ketika teringat kejadian malam itu. Semua ini karena dia! Taecyeon! Dia yang membuatku jadi begini!
“Namaku Hwang Changsung, kau mungkin sudah mengenalku,” dia terlihat bingung saat melihat kekagetan tersirat di wajahku, “maksudku yah aku anggota grup 2pm, kau tidak salah melihat. Aku benar-benar minta maaf karena telah membuatmu jadi begini. Ini semua karena kesalahanku.”
Aku mengalihkan perhatianku darinya dan menyeka airmataku. Tanganku yang terluka masih terasa sakit, dan perban di kepalaku menandakan luka yang cukup serius. Aku ingin bicara, aku ingin mengatakan sesuatu padanya tapi tidak bisa. Apapun yang coba aku katakan dia tak akan mengerti. Melihatku yang bergumam Changsung seakan mengerti kondisiku. Dia mengambil secarik kertas dan pena yang diletakkan di meja yang ada di sampingku dan memberikannya padaku.
“Kalau kau mau mengatakan sesuatu, kau bisa menuliskannya disini,” ujarnya berusaha untuk tidak menyinggungku, “aku berjanji aku akan menjagamu sampai kau benar-benar pulih.”
Aku menulis sesuatu di kertas itu. Semua yang ingin kukatakan padanya. Aku hanya ingin pulang, aku ingin pulang ke rumahku. Hanya itu yang aku mau.
“Tapi kau belum pulih. Akan berbahaya jika kau kembali ke Busan. Aku akan membawamu pulang saat kau sudah membaik. Aku berusaha memberitahu keluargamu tapi tak ada seorang pun yang bisa kuhubungi. Apa kau tidak tinggal dengan keluargamu? Apa ada seseorang yang bisa kuhubungi untuk menjaganmu selagi aku tidak disini?”
Aku menggelengkan kepalaku. Aku menulis lagi di kertas itu dan dia membacanya. Wajahnya nampak iba padaku, aku bisa melihat itu, tapi aku tidak membutuhkan belas kasihan darinya. Aku tidak menyalahkannya karena membuatku jadi begini, karena aku tahu semua itu kesalahanku.
Dia masih memandangiku dan keheningan di antara kami terpecah saat ponselnya berdering. Chansung merogoh ponselnya dari dalam jaket yang tergeletak di atas kursi tempat dia tidur selama menungguku siuman. Dan dia berbicara dengan seseorang yang terhubung dengannya dari kejauhan.
“Iya Taecyeon-hyung, ada apa? Aku sedang di rumah sakit. Gadis itu sudah sadar dan aku sedang menjaganya disini.”
Apa? Taecyeon. Jadi benar dia Chansung 2pm, dia berteman dengan Taecyeon. Tidak, itu tidak mungkin, mana mungkin ada kebetulan seperti ini. Aku berusaha menenangkan diriku agar Chansung tidak menyadari kepanikanku.
“Kau mau menjenguknya? Sebentar lagi? Baiklah, apa manajer juga akan datang? Kuharap dia berhasil mengatasi pertanyaan-pertanyaan mengenai kecelakaan ini. Aku sudah muak dengan pemberitaan di media,” ujarnya frustasi.
Jadi, berita ini tersiar? Apa Taecyeon tahu bahwa aku lah gadis yang menjadi korban kecelakaan itu? Tidak, dia pasti tidak tahu. Dia pasti sudah melupakanku. Tapi kalau sampai dia melihatku, aku tidak mau dia melihatku dengan keadaanku yang seperti ini. Aku tidak sanggup bertemu dia. Kepanikan benar-benar menjalariku. Dan sepertinya Chansung mulai sadar akan kegelisahanku.
“Baiklah, sekitar satu jam lagi aku akan menunggumu di kafetaria.” Dia menutup telponnya dan beralih padaku. Dia nampak bingung melihatku yang ketakutan. Dia segera menekan tombol darurat di meja itu membuat dokter dan seorang suster segera ada di antara kami.
“Dokter, ada apa dengannya? Dia tiba-tiba ketakutan seperti ini.”
“Kami akan memeriksanya, silahkan anda menunggu di luar.”
Changsung nampak sangat khawatir hingga enggan meninggalkan ruangan ini, tapi dia tak punya pilihan karena suster sudah memintanya untuk menunggu di luar.
Aku menulis di secarik kertas dan memberikannya pada dokter yang merawatku. ‘Sebenarnya apa yang terjadi padaku, Dok? Kenapa aku tidak bisa bicara?’
“Kecelakaan yang anda alami sangat fatal. Mengakibatkan cedera otak yang cukup mengkhawatirkan sehingga mengalami Afasia Broca sehingga mengganggu kemapuan bicara, anda. Jangan khawatir, karena ini bersifat sementara, kami akan coba melakukan segala yang bisa kami lakukan untuk membantu mengembalikan kemampuan nona dalam berbicara.” Kata-kata dokter itu membuatku merasa semakin terpuruk, aku tidak mungkin menjalani pengobatan ini. Aku tidak mungkin bertemu Taecyeon setelah semua ini terjadi.
Dokter memintaku untuk banyak beristirahat dan menenangkan pikiranku, lalu meninggalkanku untuk beristirahat. Tapi tidak, aku tidak mungkin bisa tinggal diam. Aku harus pergi. Aku melepaskan jarum infus yang ada di tanganku, meski masih lemah aku harus bergegas mengambil tasku yang diletakkan di atas meja.
Aku menyelinap keluar dari rumah sakit berjalan sepanjang jalan setapak menuju jalan raya, aku tak tahu dimana tepatnya aku sekarang. Hanya bermodalkan uang yang ada dalam tasku sebelum kejadian itu aku menghentikan taksi yang melintas.
Supir itu bertanya kemana aku ingin pergi dan itu mengejutkanku, bagaimana aku mengatakannya? Tiba-tiba aku teringat pada ponselku. Kuambil ponselku dan memberitahunya dengan menuliskan semuanya.
‘Tolong bawa aku ke Cheonggyecheon.’ tulisku. Supir itu mengerti dan melajukan mobilnya menuju tempat yang kumaksud. Tubuhku sakit, benar-benar sakit. Airmataku mengalir menahan rasa sakit dan rasa malu jika harus bertemu dia dengan keadaanku yang seperti ini. Kemarahanku padanya pun belum memudar, karena dia aku jadi begini!
Taksi berhenti di dekat Cheonggyecheon. Aku berjalan menuju tempat dimana aku menunggunya malam itu. Banyak mata melihat ke arahku, mungkin karena mereka tak menyangka bagaimana mungkin seorang pasien rumah sakit kabur ke tempat ini? Aku tidak tahu apa yang ada dipikiranku, hanya saja aku ingin berada disini.
***
POV TAECYEON
---
“Dia hilang? Maksudmu orang yang kau tabrak melarikan diri?” ujarku bingung.
“Aku hanya pergi ke kafeteria untuk membeli minuman lalu saat aku kembali dia sudah menghilang,” Chansung nampak frustasi, “Jia benar-benar membuatku mati berdiri!”
“Apa katamu? Jia?”
“Iya, gadis itu bernama Jia. Aku tidak tahu bagaimana agar aku bisa memberitahukan keluarganya sekarang. Dia tak punya keluarga, aku sudah mengirim seseorang ke Busan untuk mencari tahu keberadaan keluarganya. dan sekarang dia hilang!”
“Busan? Apa yang kau maksud Meng Jia?” aku benar-benar terkejut. Bagaimana mungkin itu Jia. tapi kalau dipikir, semuanya cocok. Kecelakaan itu terjadi tepat di hari yang sama saat aku mengajaknya bertemu di Cheonggyecheon. Dan kecelakaan itu tidak jauh dari sana! Bagaimana mungkin aku bisa tidak menyadari hal ini sebelumnya.
“Dimana dia!” teriak Changsung kesal.
Aku sadar, dan aku berlari mencarinya. Kemana dia? Jia dimana kau! Aku mencoba menghubunginya tapi tak tersambung. Aku harus mencarinya kemana?
Cheonggyecheon Stream! Mungkin dia disana!
***
POV JIA
---
Aku harus apa? Aku menangis sejadi-jadinya sampai banyak orang yang melihat ke arahku.
“Jia,” seseorang mengagetkanku. Taecyeon! Ini suaranya. Aku tak berani membalikkan tubuhku dan menghadapinya.
“Aku sudah tahu semuanya, maafkan aku. Ini semua salahku, kalau bukan karena aku kau tidak akan jadi begini.” Taecyeon benar-benar merasa bersalah. “Malam itu aku tidak bisa datang, karena mereka semua melarangku. Aku mengirimkan pesan padamu tapi kau mungkin tidak mendapatkan pesanku.”
Orang-orang yang berada di sekitar kami histeris melihat Taecyeon tanpa penyamaran apa pun berdiri di hadapan mereka. Mengajak bicara seorang gadis sepertiku. Mereka berdesakan mengerumuninya dan Taecyeon nampak berang.
“Tolong, tolong jangan ganggu kami. Kumohon, aku sedang bicara dengannya. Tolong mengerti, permisi,” ujar Taecyeon membelah kerumunan para gadis yang terkejut melihat idolanya bersikap begitu.
Kini dia berhadapan denganku, para gadis itu melihatku dengan tatapan bingung, jijik, dan marah. Aku mendelik ke arah mereka semua. Lagi-lagi Taecyeon berhasil membuatku menjadi pusat perhatian dari orang-orang yang nampak membenci kehadiranku yang berada di antara mereka.
Aku menatap Taecyeon sampai airmataku mengalir. Aku tidak mau dia melihatku begini, tapi aku sudah terdesak di sini. Aku berusaha menyingkirkan kemarahanku pada mereka yang masih saja mendelik padaku. Taecyeon tiba-tiba memelukku erat sekali mencoba mencurahkan rasa bersalahnya dan membuat gadis-gadi itu berteriak kesal. Mereka marah, tapi tak bisa melampiaskannya karena Taecyeon telah meminta mereka untuk tidak menggangu kami saat ini. Aku mendorongnya menjauh dariku. Aku tidak bisa, dia tidak boleh memelukku!
“Sebenarnya dulu kita pernah bertemu. Sebelum aku menabrakmu hari itu. Beberapa kali aku melihatmu di Pantai Haendae sejak musim panas tahun lalu. Mungkin kau tidak menyadarinya. Tapi sejak dulu aku sangat senang memperhatikanmu yang duduk di pantai itu sendirian menikmati laut.” Taecyeon nampak meyakinkanku yang terbelalak mendengar pernyataannya.
Tidak! Mana mungkin semua itu terjadi. Dia bohong, dia pasti berbohong padaku! aku tidak boleh lemah, aku tak bioleh percaya begitu saja.
“Lalu hari itu, tanpa sengaja aku menabrakmu, lalu aku sadar. Seseorang yang kutabrak adalah gadis yang selama ini aku perhatikan. Lalu aku berlari memutar arah, berharap bisa bertemu denganmu lagi. Dan akhirnya aku menabrakmu lagi, membuat mantelmu kotor. Aku bingung, bukan pertemuan seperti itu yang kuharapkan, tapi keadaan berkata lain. Saat paparazzi itu mengejarku, pikiranku hanya bagaimana caranya agar aku bisa kabur dari mereka. Tapi saat itu kau sudah ada di depan mataku, aku tak mungkin meninggalkanmu di sana setelah selama ini aku berharap bisa berbicara denganmu.” Kata-katanya membuatku goyah. Taecyeon nampak benar-benar serius dengan apa yang dikatakannya. “Karena itulah aku membawamu lari saat itu, dengan begitu aku punya alasan untuk berbicara denganmu. Kopi itu hanya alasan agar aku bisa bertemu lagi denganmu dan memperbaiki pandanganmu terhadapku. Aku ingin mengajakmu pergi tapi aku tak punya alasan untuk mengajakmu. Karena itulah aku memintamu untuk datang hari itu, aku ingin menceritakan semua ini padamu, dan mengatakan semua yang aku sembunyikan selama ini.”
Semua yang dikatakannya terngiang di pikiranku. Dia menabrakku, lalu kopi, yah, itu alasan mengapa dia memaksa untuk menganti kopi itu padaku. Lalu Aquarium Busan, itu juga alasan kenapa dia mengajakku kesana dan mengambil foto bersama. Tidak itu tidak mungkin. Kenapa baru sekarang? Kenapa baru sekarang aku tahu semuanya? Kenapa saat ini? Kenapa harus saat aku tak pantas lagi dekat dengannya.
Wajahku kini semakin pucat. tubuhku lemas, tak bisa menerima kenyataan ini. aku membalikan tubuhku, tak berani melihat Taecyeon yang nampak berharap padaku. Aku menggelengkan kepalaku mencoba menolak semua ini. Taecyeon masih berdiri di sana saat aku mulai berjalan perlahan menjauhinya sekaligus mencoba menghilangkan rasa sakit di kepalaku.
Tidak! Apapun alasannya aku tidak bisa menerima semua ini. Kini aku sudah cacat. Aku tak pantas menerima begitru banyak kenyataan ini. Aku tidak mau kembali melakukan kesalahan dengan mempercayai semua ini.
Aku meninggalkannya, berusaha tak perduli saat dia memanggilku. Aku terus berjalan lunglai, dan sesuatu menarik perhatianku. Seseorang berjaket hitam, bertopi hitam, dan berwajah mencurigakan berjalan cepat tak jauh di depanku. Aku meliriknya dan mataku menangkap sesuatu yang disematkan di balik jaketnya yang tersingkap.
Pisau? Kepalaku terasa semakin sakit dan entah mengapa aku merasa pernah melihat pria itu, tapi siapa? Ketika aku bergulat dengan pikiranku, pria itu sudah melewatiku dan ekspresi wajahnya terkesan aneh. Dia terlihat marah dan ingin membunuh seseorang. Taecyeon! Jatungku berdetak cepat, jangan-jangan?
 “Jangan!” teriakku tiba-tiba. Gadis-gadis yang memperhatikan kami sejak tadi berteriak ketakutan. Mereka semua takut melihat Taecyeon yang diserang, tapi tak satu pun yang berani menolongnya. Aku melihat pria itu mencoba menusuknya. Aku berlari ke arahnya. Taecyeon memukul pria yang kini teringat olehku. Dia Kim Yeoshin! Idol Killer yang selama ini meneror para idol.  Pria itu masih berusaha menusukan pisaunya. Dia memegang pisaunya dan mengarahkannya pada Taecyeon. Dengan spontan aku mendorong Taecyeon menjauh dan pisau itu menancap di perutku. Aku roboh, terjatuh bersimbah darah. Taecyeon memukul Kim Yeoshin hingga pingsan dan segera memelukku yang lemas bersimbah darah.
“Kenapa? kenapa kau melakukan semua ini!” teriak Taecyeon dan airmatanya mengalir, “panggil ambulan, tolong!”
“Taecyeon-shi, mianhaeyo…, jika aku pergi …, tolong …, jangan…, menyalahkan dirimu,” ujarku dengan segenap tenaga yang tersisa.
“Jia, kumohon bertahanlah.” Taecyeon menggendongku dan mencoba berlari membawaku ke Rumah Sakit. Taecyeon terlihat sangat panik melihatku yang semakin lemah. Tapi, aku sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi.
“Taecyeon-shi…, jeongmal saranghaeyo….” Aku berusaha mengatakan apa yang seharusnya kukatakan malam itu dengan segenap tenaga yang masih kumiliki. Taecyeon tidak kuat melihatku yang sudah tidak bisa bertahan. Aku sudah benar-benar tidak kuat, tubuhku semakin lemah hingga akhirnya kesadaranku memudar seiring dengan kata-kata Taecyeon yang terdengar samar-samar di telingaku.
“Jia, nado saranghaeyo. Jia …, kumohon….”
***
POV TAECYEON
---
            “Kenapa kau diam saja! Jia, kumohon, aku tahu aku salah, aku lah yang menyebabkan semua ini terjadi. Kumohon …, aku ingin melihatmu marah, aku ingin kau meneriakiku, kau boleh memukulku sepuasmu. Jia, kumohon.” Aku memegang erat tangannya yang lemah. Berapa kali pun aku berteriak, Jia tetap tidak meresponku. “Tidak adakah yang bisa menolongku! Kenapa kalian diam saja! Panggil ambulan kumohon!” teriakku putus asa.
            Untuk pertama kalinya dalam hidupku airmataku terjatuh di hadapan semua orang. Aku memeluk Jia seerat yang kubisa, membuatnya merasa hangat dan bertahan meski aku tahu semua ini sia-sia.
            Aku kehilangan kesabaran. Aku mencoba menggendongnya lagi dan berlari menuju rumah sakit. Semua mata menuju ke arahku, tak sedikit orang yang mengambil gambarku. kenapa mereka tidak mencoba menolongku!
***
Hyung, apa yang terjadi?” Changsung nampak bingung melihata Jia yang bersimbah darah dalam pelukanku. Kepanikanku memuncak membuat rumah sakit itu terganggu dengan teriakan-teriakanku.
“Siapa pun! Tolong bawa Jia, selamatkan Jia!” teriakanku membuat para suster berlarian mencoba menolong Jia dan membawanya ke UGD. Mereka membawanya masuk, membuatku menunggu dalam cemas bersama Chansung yang sepertinya menunggu penjelasan dariku. Tapi ini bukan waktu yang tepat! Aku harus memastikan bahwa mereka berhasil menyelamatkan Jia bagaimana pun caranya!
Tidak makan waktu lama, dokter itu keluar dari ruang UGD dengan wajah muram membuatku semakin terhenyak.
“Apa yang terjadi? Dia baik-baik saja kan!” ujarku menuntut.
“Maaf, tapi gadis itu sudah tidak bisa tertolong. Dia kehilangan terlalu banyak darah, dan saat tiba di sini dia sudah sangat lemah. Kami menyesal.” Dokter itu meninggalkanku dengan amarah yang berkecamuk dalam diriku.
“ARGH!” teriakku sekuat yang kubisa. Aku marah, benar-benar marah dalam diriku. Aku memukul dinding di depanku dengan kuat untuk melampiaskan kemarahanku. Chansung berusaha menenangkanku tapi aku memukulnya.
“Ini semua karena kau! Kau menabraknya!” teriakku.  Aku memukulnya sekuat tenaga yang masih kumiliki untuk melampiaskan kesalahanku.
BRUK! Chansung terjatuh hampir mengenai kursi di depannya. Dia nampak tak memberi perlawanan. Aku tahu semua ini bukan semata-mata karenanya. Semua ini salahku. Tapi Chansung menabraknya! Dia membuat Jia begitu lemah hingga jadi seperti ini! Tidak! Apa yang kupikirkan kenapa aku menyalahkan semua ini padanya! Aku …, aku lah yang menyebabkan kecelakaan itu! Jia …, maafkan aku….
***
            Pemakaman Jia berlangsung tidak lama. Selama ini ternyata Jia hidup sendiri tanpa keluarga. Aku mengurus semua keperluan pemakamannya. Yah, hanya itu yang bisa aku lakukan untuknya. Aku tidak akan pernah melupakan kesalahan terbesarku padanya. Kesalahan, bahwa aku tidak berani jujur padanya saat pertama kali kita bertemu. Kalau saja aku mengatakannya lebih cepat, semua ini tidak akan pernah terjadi.
            Penyesalanku inilah yang kini membawamu pergi ….           
            “Taecyeon-hyung,” ujar Chansung mengejutkanku. “Maaf jika aku lancang, polisi memberikan barang-barang milik Jia yang tertinggal di tempat kejadian padaku pagi ini. Aku memeriksanya, dan aku menemukann sesuatu dalam catatan di ponselnya. Aku rasa, Jia ingin kau tahu sesuatu.”
            Aku mengambil ponsel yang diberikan Chansung padaku, membuka apa yang dikatakan Changsung. Dan benar saja ada catatan terakhir tepat di tanggal yang sama sebelum kedian kecelakaan itu. Aku membukanya dan membacanya….

            Taecyeon benar-benar menepati janjinya! Dia mengajakku bertemu di sana malam ini. Kira-kira kenapa dia mengajakku bertemu? jangan-jangan hanya karena membayar hutangnya lagi. Astaga, apa yang aku pikikan? Perasaan apa sebenarnya yang aku rasakan saat ini. Aku sangat ini bertemu dia, meski rasanya aku ragu dan takut. Semoga saja mala mini akan menjadi malam yang indah.
Aku tertunduk lemah di pusara Jia. Berusaha menguatkan diriku, airmataku tak bisa kubendung sekuat apapun aku mencoba. Kini aku merasa benar-benar bodoh. Aku kehilangan semuanya karena menunda apa yang bisa kukatakan hari itu. Kini semua percuma, Jia, gadis yang selama ini menjadi semangatku sudah pergi. Andai waktu bisa kembali.
***
Aku duduk di Pantai Haeundae dengan ponsel Jia di tanganku. Aku mencoba menikmati angin musim semi di sini pada mala mini. Malam sudahh benar-benar larut hingga aku merasa nyaman di sini sendirian, tanpa perlu khawatir akan otrang lain menggangguku.
Aku membuka ponsel itu, membaca ulang catatan terakhir miliknya, dan membuat sebuah catatan baru di ponselnya.

Saat pertama kali melihatmu di pantai ini, ada sesuatu yang membuat hari-hariku berubah. Aku merasa kau mengusik hidupku dengan bayanganmu. Ingin sekali aku menemuimu dan menyapamu, tapi apa daya, situasiku yang sulit membuatku lemah dan tak bisa memberanikan diri. Hingga kejadian itu, sepertinya Tuhan memberiku kesempatan untuk mengenalmu, tapi aku menyia-nyiakannya. Ketidakberanianku kini merenggutmu dariku. Aku mencoba menerima konsekuensi yang sudah sepantasnya kudapatkan, meski itu sulit. Andai saja kita tidak pernah bertemu, mungkin kau tidak akan seperti ini. Kau benar, dulu berkali-kali kau katakana aku mengganggu hidupmu, mengerecokimu, maafkan aku. Kini meskipun kau meninggalkanku, aku tetap merasa kau ada di sini. Tepat di hatiku, di pikiranku, dan di kehidupanku. Meskipun kau meninggalkanku, tapi pantai ini tetap saja seperti memilikimu. Kau dan pantai ini sudah menyatu dalam hatiku. Jia, Even if you leave me, if I can watch over you, I’m happy, that’s enough. And now, forgive me, I’m sorry I can’t be at your side.

Aku menyimpan catatan itu, tersenyum simpul  memandang ombak kecil di depanku dan menghabiskan malam di sana bersamamu dalam hatiku.
***